Ganti Blog

May 1st, 2010 by t_djamal

Blog Baru Dokumentasi T. Djamaluddin

Karena masalah dalam akses updating, blog ini saya hentikan updatingnya. Saya membuat blog baru Dokumentasi T. Djamaluddin dengan tema “Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi di

http://tdjamaluddin.wordpress.com/

Silakan kunjungi bog baru tersebut.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Struktur Alam Semesta

March 30th, 2010 by t_djamal

Pancaran Inframerah: Menguak Struktur Alam Semesta

(Dimuat Pikiran Rakyat, 2 Okt 1995)

T. Djamaluddin

Peneliti Bidang Matahari dan
Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung

================================================================
Catatan:

Subhanallah. Bukti baru dari pengamatan teleskop antariksa
Hubble mengungkapkan keberadaan “energi gelap” (energi yang belum
diketahui hakikatnya) yang mempercepat pengembangan alam semesta. Isi alam
semesta ini yang tampak hanya <1%, 73% energi gelap, dan sisanya
“materi gelap” (materi tak tampak). http://www.skyandte…lescope.com/community/skyblog/newsblog/89139742.html

Tulisan
lama saya ini — cerita tentang menguak struktur alam semesta dari survey
kolaborasi bersama teman-teman di Univ. Kyoto tahun 1990-an  — masih
relevan saya masukkan dalam dokumentasi blog saya untuk memberikan pemahaman
awal tentang struktur alam semesta yang pengembangannya dipelajari dari gerak
menjauh galaksi-galaksi. Kerja
kolaborasi tsb makalahnya dapat dibaca di

http://articles.adsabs.harvard.edu/cgi-bin/nph-iarticle_query?1993MNRAS.262…79Y&data_type=PDF_HIGH&whole_paper=YES&type=PRINTER&filetype=.pdf

http://articles.adsabs.harvard.edu/cgi-bin/nph-iarticle_query?1993ApJS…89…57Y&data_type=PDF_HIGH&whole_paper=YES&type=PRINTER&filetype=.pdf

==============================================================
Komponen terkecil alam semesta dalam tinjauan skala besar adalah galaksi. Galaksi
sendiri sebenarnya adalah kumpulan milyaran bintang. Tetapi dalam skala besar
alam semesta, galaksi-galaksi itu hanya dipandang sebagai titik-titik yang
tersebar di dalam ruang yang amat besar. Dari pengamatan jarak dan sebaran
galaksi-galaksi diketahui bahwa galaksi-galaksi itu berkelompok membentuk
gugusan galaksi (Cluster). Daerah kosong yang tidak mengandung galaksi
disebut kehampaan (void). Tetapi ternyata tidak semua daerah langit
berhasil dipetakan. Ada zona gelap yang masih merupakan wilayah kabur yang
belum banyak diketahui struktur sebaran galaksi pada arah itu. Ini menantang
astronom untuk berusaha menembusnya, diantaranya dengan mendeteksi pancaran
sinar inframerah dari galaksi-galaksi luar.

Gugusan Galaksi
Bila kita melihat foto langit hasil pemotretan dengan teleskop besar, misalnya
foto survai langit oleh observatorium Palomar (Palomar Observatory Sky
Survey
, POSS), yang terlihat adalah titik-titik putih. Itu adalah
bintang-bintang yang berada di galaksi kita. Kalau kita teliti lebih cermat
dengan menggunakan lup (kaca pembesar), pada daerah-daerah tertentu ada
titik-titik yang bentuknya bukan seperti titik biasanya, melainkan berbentuk
agak lonjong atau bahkan disertai bentuk “S” yang kabur. Objek-objek
seperti itu adalah galaksi yang sangat jauh. Karena jaraknya yang amat jauh,
ratusan milyar bintang pada galaksi itu hanya tampak sebagai satu noktah
terang. Di beberapa daerah langit kita bisa menjumpai adanya kumpulan galaksi
di sela-sela titik-titik bintang.
Dengan mempelajari spektrum cahaya galaksi-galaksi itu, astronom bisa
menentukan jaraknya. Ternyata galaksi-galaksi itu berkelompok. Kelompok
terkecil menempati ruang dalam skala tiga juta tc (tc : tahun cahaya, jarak
yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun dengan kecepatan 300.000 km/detik;
9,5 trilyun km), misalnya yang disebut grup lokal yang berisi 21 galaksi,
termasuk galaksi kita (galaksi Bima Sakti). Kelompok-kelompok kecil itu
membentuk kelompok yang lebih besar yang disebut gugus raksasa (supercluster).
Gugus raksasa itu menempati ruang berskala 60 juta tc atau lebih.
Menurut hasil penelitian dalam dasa warsa terakhir ini, diketahui bahwa
struktur alam semesta terdiri dari gugus raksasa yang membentuk seperti pita
(filamen) atau bidang dan void (kehampaan) yang besar. Void
didefinisikan sebagai ruang alam semesta yang tidak mengandung galaksi dalam
rentang 90 juta tc.
Sebagian besar gugus galaksi itu berkumpul dalam gugus raksasa yang berbentuk
seperti bidang yang disebut bidang super galaktik. Gugus raksasa lainnya yang
telah diketahui berbentuk filamen, misalnya filamen Hydra (melalui rasi Hydra)
dan filamen Puppis (melalui rasi Puppis).
Struktur gugus raksasa itu kini terus dipelajari untuk mendapatkan gambaran
yang lebih lengkap tentang struktur alam semesta kita. Tetapi para astronom
mendapat kendala karena ada langit yang tidak transparan, sehinggga di daerah
itu sedikit sekali galaksi luar yang terlihat. Daerah itu disebut zona langka
galaksi atau zona gelap (zone of avoidance), yang struktur sebaran
galaksinya tidak banyak kita ketahui.

 

Zona Gelap
Galaksi kita, galaksi Bima Sakti, sebenarnya bukan hanya terdiri dari
bintang-bintang, tetapi juga awan gas dan debu yang biasanya disebut awan
molekul. Seperti halnya awan di angkasa bumi menghalangi pengamatan bintang,
awan molekul menghalangi pengamatan galaksi-galaksi luar yang lebih jauh dari
bintang-bintang yang biasa kita lihat. Akibat serapan cahaya oleh kumpulan awan
molekul di hampir seluruh bidang galaksi kita itu, menyebabkan daerah langit
yang dilalui Bima Sakti sebagai zona gelap. Hanya sebagian kecil saja yang
sedikit mengandung awan molekul yang dikenal sebagai jendela galaksi,
misalnya di sekitar Puppis. Di daerah Puppis ini jumlah galaksi luar yang
teramati relatif banyak dibandingkan dengan di daerah bidang galaksi lainnya.
Untuk mengetahui lebih jelas struktur alam semesta dalam skala besar, telaah
sebaran galaksi-galaksi di zona gelap ini sangat diperlukan. Tetapi bagaimana?
Galaksi-galaksi luar itu memancarkan sinar infra merah yang cukup kuat. Sifat
sinar infra merah yang utama adalah kemampuannya menembus halangan awan
molekul. Sehingga kalau kita menggunakan kamera yang peka menangkap pancaran
sinar infra merah dari galaksi-galaksi luar itu, kita akan melihat lebih banyak
galaksi luar di zona gelap itu.
Maka pencarian galaksi di zona gelap
itu dilakukan terutama dengan memanfaatkan hasil survai langit yang mendeteksi
pancaran sinar infra merah. Pencarian ini dapat dilakukan dengan memanfaatklan
data IRAS (Infrared Astronomical Satelite) yang dikonfirmasikan secara
visual pada foto langit (paper print) POSS (Palomar Observatory Sky
Survey)
dan atlas inframerah UK Schmidt.
Dari
hasil pencarian itu diperoleh ribuan galaksi di zona gelap itu. Setelah
dianalisis, struktur sebarannya menunjukkan adanya kesinambungan gugus galaksi
raksasa yang membentuk filamen Hydra dan Puppis dan beberapa filamen lainnya. Sebelumnya
struktur yang “terpenggal” oleh zona gelap masih merupakan teka-teki,
apakah struktur itu bersambung atau memang terpenggal.
Dengan
telaah sinar infra merah yang dipancarkan galaksi-galaksi luar teka-teki itu
terjawab. Tetapi masih diperlukan telaah lebih mendalam untuk mempelajari
struktur alam semesta yang lebih lengkap lagi. Kini dengan teleskop pendeteksi
sinar infra merah yang lebih canggih yang berada di satelit di luar angkasa
usaha itu masih diteruskan. Semakin jauh kita menembus kedalaman langit menguak
struktur alam semesta, kita akan makin tahu kekecilan galaksi kita, apalagi
bumi dan diri kita sendiri.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Sempurnakan Arah Kiblat dengan Benar

March 25th, 2010 by t_djamal

Mari Kita Akhiri Kontroversi Arah Kiblat
Masalah arah
kiblat yang seolah bergeser akibat gempa perlu segera diluruskan. Karena hal
itu tidak berdasar logika ilmiah dan berpotensi meresahkan masyarakat. Pergeseran
lempeng bumi hanya berpengaruh pada perubahan peta bumi dalam rentang waktu
puluhan atau ratusan juta tahun, karenanya tidak akan berdampak signifikan pada
perubahan arah kiblat di luar Mekkah dalam rentang peradaban manusia saat ini. Jadi,
saat ini tidak ada pergeseran arah kiblat akibat pergeseran lempeng bumi atau
gempa. Semua pihak (terutama Kementerian Agama dan MUI) jangan terbawa pada
opini yang didasari pada informasi yang keliru.

Masalah
ketidakakuratan arah kiblat yang terjadi pada banyak masjid, bukanlah masalah
pergeseran arah kiblat, tetapi karena ketidakakuratan pengukuran pada awal
pembangunannya. Itu bukan masalah serius dan mudah dikoreksi. Badan Hisab
Rukyat (BHR) Kementerian Agama dan BHR Daerah serta kelompok-kelompok peminat
hisab rukyat bisa memberikan bantuan penyempurnaan arah kiblat tersebut. Bisa
juga dilakukan koreksi massal dengan panduan bayangan matahari pada saat
matahari berada di atas Mekkah atau dengan panduan arah kiblat berbasis internet Google Earth/Qiblalocator.
Setelah arah kiblat diketahui, tidak harus bangunannya yang diubah, cukup arah
shafnya. Kementerian Agama bersama MUI, BHR, BHRD, dan kelompok-kelompok
peminat hisab rukyat bisa melakukan sosialisasi penyempurnaan arah kiblat
tersebut.

Info saat posisi
matahari berada di atas Mekkah dapat dilihat di blog saya:

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!113

Panduan langsung arah kiblat berbasis Google Earth pada
dilihat di

http://www.qiblalocator.com/

Fatwa MUI tentang arah kiblat yang membolehkan menghadap ke
arah Barat perlu dipertimbangkan lagi karena menghadap arah kiblat yang benar
bukan hal sulit dan penyempurnaan arah kiblat di banyak masjid juga tidak harus
mengubah bangunannya.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Arah Kiblat tak Berubah

March 22nd, 2010 by t_djamal

Tak Benar Pergeseran Lempeng Bumi Mengubah Arah KiblatIni berita yang membangkitkan cerita awal 2010 seolah gempa mengubah arah kiblat. Berita ini kemudian muncul juga di running text TV One lalu Jumat malam, 19 Maret, Ketua MUI yang menjadi nara sumber muncul juga di TV One.========================================================

Republika OnLine »
Dunia Islam
»
Islam
Nusantara

MUI
Minta Masjid Sesuaikan Arah Kiblat

Kamis, 18 Maret 2010, 17:59 WIB

   

JAKARTA-Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta
masjid di Indonesia menyesuaikan arah kiblat agar tepat mengarah Kabah
di Kota Mekkah, Arab Saudi. Alasannya, akibat pergeseran lempengan bumi,
arah kiblat dari Indonesia ke Mekkah bergeser sekitar 30 centimeter
lebih ke kanan.

Karena itu, arah kiblat masjid perlu
disesuaikan. Jadi, harus disesuaikan dengan penemuan terbaru. Kalau
melenceng 1-2 atau 5 cm tidak begitu masalah. Ini kan bergeser cukup
besar sekitar 30 centimeter lebih, ujar Ketua MUI, KH Amidhan, Kamis
(18/3) di Jakarta.

=====================================================

Beberapa orang segera menelpon saya minta klarifikasi. Bahkan kabarnya ada masjid yang bersiap mengubah arah kiblatnya. Segera saya buat bantahan yang saya kirim ke beberapa media massa, karena khawatir meresahkan, seperti ada masjid yang sudah bersiap mengubah arah kiblatnya tersebut (tetapi bagaimana cara menggeser 30 cm ke kanan?). Okezone memuat bantahan itu pada 20 Maret. Walau seolah judulnya membatasi hanya Gempa Cile, kantor berita “Antara” memberitakan  pada 20 Maret bantahan tersebut yang dikutip pada 21 Maret oleh banyak media lain (antara lain, Republika, Liputan 6, TV One, Berita8, Waspada (Medan), Semangat Pagi (Makassar). Malamnya Elshinta mewawancara saya langsung terkait masalah tersebut.

Techno - Science

Gempa Tidak Sebabkan Pergeseran Kiblat

Sabtu, 20 Maret 2010 - 11:54 wib
Rachmatunnisa - Okezone
JAKARTA
- Awal tahun 2010, publik ramai membahas melencengnya arah kiblat.
Gempa bumi yang terjadi bertubi-tubi ditengarai menjadi penyebab
pergeseran arah kiblat di sejumlah masjid di Indonesia. Alasannya,
akibat gempa tanah di Indonesia mengalami pergeseran sekitar tujuh
centimeter per tahun.

Padahal pada kenyataannya, gempa tidak
sampai menyebabkan pergeseran arah kiblat. Profesor Riset Astronomi
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin
memberikan catatan kepada media dan pihak terkait agar jangan sampai
menimbulkan kesalahfahaman terkait hal ini.

“Pernyataan tersebut
mungkin salah kutip atau salah persepsi, tetapi berpotensi meresahkan
masyarakat. Pergeseran lempeng yang mengubah peta bumi lalu mengubah
arah kiblat, perlu waktu puluhan juta tahun. Jadi tidak akan ada
perubahan arah kiblat akibat gempa,” kata Thomas kepada Okezone,
Sabtu (20/32010).

Menurutnya, jika kenyataannya banyak mesjid
yang arah kiblatnya kurang tepat, bukan disebabkan perubahan tersebut,
melainkan karena sejak awal menentukan arah kiblat yang memang kurang
akurat.

Republika OnLine »
Dunia Islam
»
Islam
Nusantara

LAPAN:
Gempa Cile tak Ubah Arah Kiblat

Ahad, 21 Maret 2010, 11:04 WIB

   

JAKARTA–Pakar astronomi Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Prof Dr Thomas Djamaluddin,
membantah pemberitaan bahwa pergeseran lempengan bumi akibat gempa Cile
telah menggeser arah kiblat sekitar 30 centimeter lebih ke kanan.

“Tidak
ada pergeseran arah kiblat oleh pergeseran lempeng atau sebab lain.
Pernyataan tersebut mungkin salah kutip atau salah persepsi, tetapi
berpotensi meresahkan masyarakat,” kata Djamal di Jakarta, Minggu
(21/3).

Diakuinya banyak masjid yang arah kiblatnya kurang tepat,
namun bukan karena adanya perubahan arah kiblat, tetapi karena
penentuan awal sebelum pembangunannya yang tidak akurat.

Saat itu
masjid cenderung dibangun dengan arah kiblat yang sekedar mengikuti
arah barat lalu diserongkan sedikit ke kanan atau sekedar mendasarkan
diri pada arah kiblat masjid terdekat yang belum tentu benar, ujarnya.
“Jadi yang tidak benar metode pengukurannya, bukan alat ukurnya,”
katanya.

Menurut dia, hanya dengan bantuan posisi matahari saja
cukup akurat menentukan arah kiblat jika dipandu oleh orang yang
terlatih ilmu falak, selain itu juga peranti lunak Qibla Locator yang
termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com
juga mudah digunakan.

Ditegaskannya, pergeseran lempeng yang
mengubah peta bumi termasuk mengubah arah kiblat, memerlukan waktu
jutaan tahun.

Pergeseran Lempeng

Ia juga
mengatakan tentang NASA yang mengabarkan bahwa gempa Cile berdampak pada
pergeseran poros “gambar bumi” dan percepatan rotasi bumi. “Tapi,
pergeseran lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi itu,
bukan gempanya, karena gempa sekadar indikator pelepasan energi akibat
pergeseran lempeng bumi,” katanya.

Akibat pergeseran lempeng,
lanjut Djamal, kesetimbangan “gambar bumi” sedikit berubah karena titik
massa kulit bumi bergeser. Hal itu menyebabkan poros “gambar bumi”
bergeser.

Poros “gambar bumi” (Earth`s figure axis), lanjut dia,
tidak sama dengan poros astronomis (poros utara-selatan) yang
menggambarkan poros rotasi bumi.

“Untuk kasus gempa Cile 2010
pergeserannya sekitar 8 cm di mana sudutnya bergeser 2,7 mili detik
busur =0,00000075 derajat dan terlalu kecil untuk dilihat,” katanya.

Demikian
juga gempa Aceh 2004, pergeserannya hanya 7 cm di mana sudutnya
bergeser 2,32 mili detik busur = 0,00000064 derajat, demikian Djamal.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Percepatan-Perlambatan Rotasi Bumi

March 4th, 2010 by t_djamal

ROTASI BUMI
DIPERCEPAT OLEH GEMPA DAN DIPERLAMBAT PASANG SURUT BULAN

 

Beberapa hari setelah gempa Chile 27 Februari
2010 peneliti JPL NASA mengabarkan bahwa gempa Chile berdampak pada percepatan
rotasi bumi dan pergeseran poros ”gambar bumi”. Bagi sebagian orang, berita
tersebut mengejutkan. Tetapi sebenarnya, percepatan dan pelambatan rotasi bumi terus terjadi. Bumi kita secara konstan diperlambat
olah pasang surut bulan dengan efek yang lebih kuat. Apa yang sesungguhnya terjadi?

http://www.jpl.nasa.gov/news/news.cfm?release=2010-071

Chilean Quake May Have Shortened Earth Days

March 01, 2010

The Feb. 27 magnitude 8.8 earthquake in Chile may have shortened the length
of each Earth day.

JPL research scientist Richard Gross computed how Earth’s rotation should have
changed as a result of the Feb. 27 quake. Using a complex model, he and fellow
scientists came up with a preliminary calculation that the quake should have
shortened the length of an Earth day by about 1.26 microseconds (a microsecond
is one millionth of a second).

Perhaps more impressive is how much the quake shifted Earth’s axis. Gross
calculates the quake should have moved Earth’s figure axis (the axis about
which Earth’s mass is balanced) by 2.7 milliarcseconds (about 8 centimeters, or
3 inches). Earth’s figure axis is not the same as its north-south axis; they
are offset by about 10 meters (about 33 feet).

By comparison, Gross said the same model estimated the 2004 magnitude 9.1
Sumatran earthquake should have shortened the length of day by 6.8 microseconds
and shifted Earth’s axis by 2.32 milliarcseconds (about 7 centimeters, or 2.76
inches).

Gross said that even though the Chilean earthquake is much smaller than the
Sumatran quake, it is predicted to have changed the position of the figure axis
by a bit more for two reasons. First, unlike the 2004 Sumatran earthquake,
which was located near the equator, the 2010 Chilean earthquake was located in
Earth’s mid-latitudes, which makes it more effective in shifting Earth’s figure
axis. Second, the fault responsible for the 2010 Chiliean earthquake dips into
Earth at a slightly steeper angle than does the fault responsible for the 2004
Sumatran earthquake. This makes the Chile fault more effective in
moving Earth’s mass vertically and hence more effective in shifting Earth’s
figure axis.

Gross said the Chile
predictions will likely change as data on the quake are further refined.

Pergeseran
lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi itu, bukan gempanya. Gempa
sekadar indikator pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi. Karena ada
pergeseran lempeng bumi, maka kesetimbangan “bola” bumi berubah. Sesungguhnya
“bola” bumi bukanlah bola sempurna, tetapi bola pepat di arah kedua kutubnya
(oblate spherical) dengan distribusi massa yang tidak merata. Dalam geodesi,
bentuk bumi yang tak mulus itu menjadi kajian menarik. Poros “gambar
bumi” geodetik itu dirumuskan sebagai poros yang menjadikan massa bumi relatif
setimbang di sekitar poros. Jadi poros “gambar bumi” (Earth’s figure
axis) tidak sama dengan poros astronomis (poros utara selatan) yang
menggambarkan poros rotasi bumi.

Apa akibat
pergeseran lempeng? Kesetimbangan “gambar bumi” sedikit berubah karena
titik massa kulit bumi bergesar. Akibatnya, poros “gambar bumi”
bergeser. Untuk kasus gempa Chile 2010 pergeserannya sekitar 8 cm (sudutnya
bergeser 2,7 mili detik busur =0,00000075 derajat, terlalu kecil untuk
dilihat). Dan untuk gempa Aceh 2004 pergeserannya 7 cm (sudutnya bergeser 2,32
mili detik busur = 0,00000064 derajat).

Akibat pergesaran
kesetimbangan massa bumi, rotasi bumi dipercepat 1,26 mikro detik =
0,000000126 detik, manusia tidak mungkin merasakannya). Sebenarnya soal percepatan-perlambatan
rotasi bumi, bukan hanya disebabkan oleh pergeseran lempeng. Efek pasang surut bulan
juga menyebabkan rotasi bumi diperlambat 0,00002 detik per tahun, jauh lebih kuat efeknya daripada gempa (lihat blog saya ”Sinkronisasi Bumi-Bulan” di

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!136

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Talents Mapping

February 27th, 2010 by t_djamal

MEMBACA POTENSI DIRI

 

Beberapa bulan lalu LAPAN memfasilitasi
analisis bakat (Talents Mapping) sebagian pegawainya. Menarik juga untuk membaca
potensi diri untuk dikembangkan. Tujuh bakat dominan perlu diperhatikan,
masing-masing orang pasti unik. Inilah tujuh bakat dominan saya menurut
analisis Talents Mapping.

1. DEVELOPER

2. IDEATION

3. CONNECTEDNESS

4. STRATEGIC

5. EMPATHY

6. HARMONY

7. ARRANGER

DEVELOPER: Senang memajukan orang lain dan melihat orang lain maju,
mendapatkan kepuasan dari melihat setiap kemajuan masing-masing individu.

-
Dia
melihat kemampuan yang ada pada orang lain. Semua kemampuan mereka itu dapat
terlihat oleh nya.

-
Ketika
berinteraksi dengan orang, dia bersedia menolong mereka mencarikan jalan untuk
mencapai tujuan.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: manager, guru, pelatih, pembimbing, petugas sosial.

IDEATION: Banyak ide, menyukai diskusi kelompok yang bebas, dan baik sekali
di dalam brainstorming.

-
Inovatif,
konsep, teori, dan soiusi merupakan hat yang penting bagi orang berbakat
Ideation.

-
Dia
memiliki cara yang sederhana untuk menjelaskan banyak kejadian, konsep yang
sangat mendasar seringkati dapat menjelaskan apa yang kelihatannya rumit dan
menemukan idea yang belum lengkap ini merupakan hat menyenangkan.

-
Dia
tergila-gita dengan ide-ide. Apakah ide itu? Ide adalah konsep, penjelasan
terbaik tentang berbagai kejadian.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: marketing, advertensi, wartawan, perancang, atau pengembang produk
baru.

CONNECTEDNES:  Memiliki keyakinan
dalam menjelaskan gejala secara ”bathin”

-
Penuh
pertimbangan, penuh perhatian, mudah menerima : inilah kata-kata yang tepat
baginya.

-
Segata
sesuatu terjadi pasti ada sebabnya. Dia yakin akan hal itu, karena dalam
hatinya dia tahu bahwa kita semua ini sating berkaitan.

Tema bakat ini merupakan satah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: pendengar dan pemberi saran (konselor), leader di dalam membangun team
yang berbeda kelompok, atau membantu orang merasa berguna.

STRATEGIC: Dapat memilih jalan terbaik dari berbagai pilihan berdasarkan data
dan intuisi, dapat melihat pola dari pengalaman dan data, isunya timbul dalarn
berbagai skenario.

-
“What
if?” nya timbut karena banyaknya pilihan di depan yang harus diambil.

-
Tema
Strategic memungkinkannya memilah di antara kekusutan dan menemukan jalur yang
terbaik.

-
Dia
memisahkan dan memilih sampai ditemukan lintasan yang terbaik.

Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: perencana strategis, manager, leader.

EMPATHY: Dapat merasakan perasaan orang lain seakan terjadi pada dirinya.

-
Mengerti
emosi yang sedang dialami seseorang, walaupun dia tidak selalu perlu setuju
dengan perasaan orang tersebut.

-
Dapat
“mendengarkan” pertanyaan yang tidak terungkapkan.

Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: sales, HRD, guru TK/SD, juru rawat, operator telepon, psikiater, dispatcher,
layanan pelanggan.

HARMONY: Dapat bekerjasama secara baik dengan orang lain.

-
Tidak
suka terhadap adanya konflik, setiap kali dia merasakan adanya perbedaan
pendapat atau perdebatan, dia akan menaruh perhatian terhadap apa yang pernah
terucapkan, memperhatikan apa yang terjadi dan berusaha mendamaikan dengan
menunjukkan adanya kesamaan dari kedua belah fihak

-
Dia
menganggap bahwa pertentangan dan gesekan itu tidak ada hasilnya, sehingga dia
berusaha menguranginya sekecil mungkin.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: pembangun jaringan antara orang-orang dengan cara pandang yang
berbeda, juru damai, penasehat.

ARRANGER: Dapat mengorganisir akan tetapi juga memiliki kelenturan yang
membantu pengaturannya.

-
Selalu
berusaha memikirkan kembali sesuatu. Slogannya adalah ”pasti ada jalan yang
lebih baik dari itu!”.

-
Dia
seorang koordinator. Berhadapan dengan situasi yang sulit yang melibatkan
banyak faktor, dia senang mengatur semuanya, meluruskan dan meluruskannya lagi
sampai dia merasa yakin bahwa dia tetah mengaturnya dalam konfigurasi yang
sangat produktif.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: supervisor, manager, event organizer, programmer

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Waspadai Potensi Bencana

February 27th, 2010 by t_djamal

MARI MEMBACA ALAM UNTUK MEWASPADAI POTENSI BENCANA

Thomas Djamaluddin

Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (Apr 2007 - Maret 2010)

Profesor Riset
Astronomi-Astrofisika,

 LAPAN

            Indonesia relatif rentan
terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan
lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting
beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi).
Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti gempa,
gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang terkait
dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan
tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat
penurunan permukaan tanah daerah pantai). Untuk mewaspadai potensi bencana, dua
hal harus diperhatikan: perubahan global-lokal dan variabilitas fenomena alam.
Membaca alam adalah memahami perubahan dan varibilitas itu untuk mengantisipasi
kemungkinan adanya potensi bencana.

Perubahan Global dan Lokal

Pemanasan global sering disebut-sebut sebagai
biang keladi meningkatnya bencana. Ada benarnya, tetapi faktor lokal juga harus
diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi
yang keliru. Akibat generalisasi keliru seolah-olah faktor penyebab utama
bencana adalah pemanasan global bisa membuat kita tidak sadar bahwa sumber
penyebabnya yang utama ada di sekitar kita sendiri. Kita juga menjadi tidak
sadar dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana.

Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual
temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2)
dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari
data, bukan fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu
akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di
media massa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah
menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan
global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit namun konsisten.

Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan
iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat
lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik
karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah
komposisi atmosfer maupun tataguna lahan. Perubahan Iklim kadang dibedakan
dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia
(antropogenik). Variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.

Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan
adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan di penghujung
milenium ketiga 2090 – 2099 bumi akan makin panas. Dampaknya, ada wilayah yang
makin tinggi curah hujannya (a.l. Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang
makin rendah curah hujannya (a.l. Indonesia bagian selatan). Data rata-rata
suhu Indonesia 1970 – 2004 menunjukkan kenaikan 0,2 – 1 derajat yang
berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan
salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu
berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat, perubahan suhu tersebut hanyalah
rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena
pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3 derajat dalam rentang waktu
yang sama.

Perubahan lokal berdampak
jangka pendek, dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota
terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanan berkurang. Banjir dan tanah
longsor semakin sering terjadi karena menurunnya daya dukung lingkungan.
Pembangunan telah mengubah tataguna lahan yang mengubah kesetimbangan alam.
Penambahan kepadatan penduduk telah memperburuk kondisi lingkungan sehingga
tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekali pun yang
berdampak banjir dan tanah longsor.

Variabilitas

Potensi bencana perlu
diwaspadai dengan mengkaji periodisitas dan variabilitasnya. Secara umum
kejadian di bumi sering bersifat periodik, berulang. Ada yang keberulangannya
mudah diprakirakan, seperti musim kemarau dan musim hujan. Tetapi ada juga yang
sulit, seperti kejadian gempa. Tetapi, kalau pun bisa diprakirakan,
keberulangannya tidak mungkin tetap karena banyak faktor yang mempengaruhinya.
Keberulangannya bisa bervariasi, lebih panjang atau lebih pendek. Jadi, ada
variabilitas.

Karena
banyak faktor yang mempengaruhi, datang dan perginya musim hujan dan musim
kemarau menjadi bervariasi. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Kegagalan dalam
memprakirakan sering berdampak pada kerugian. Para peneliti (termasuk di LAPAN)
kini berupaya memahami variabilitas itu dengan memahami banyak faktor yang
mempengaruhinya. Belum semua rahasia alam terkuak, tetapi kini semakin banyak
faktor telah difahami.

Dulu
kita hanya mengenal dua musim: musim hujan dan kemarau, dengan pancaroba pada
masa peralihannya. Faktor yang berpengaruh adalah perubahan posisi matahari
yang berubah periodik ke utara dan ke selatan, sehingga terjadinya fenomena
monsun, yaitu perubahan angin dari Asia-Pasifik dan Australia.
Desember-Januari-Februari (DJF) adalah musim hujan di sebagian besar wilayah
Indonesia karena adanya angin yang membawa uap air dari Pasifik dan Asia.
Sedangkan Juni-Juli-Agutus (JJA) adalah musim kemarau karena angin dari
Australia bersifat kering. Pada musim hujan dan kemarau udara cenderung lebih
dingin karena angin membawa udara dingin dari daerah yang sedang mengalami
musim dingin.

Maret-April-Mei (MAM)
dan September-Oktober-November (SON) adalah musim peralihan, pancaroba. Pada
musim pancaroba udara cenderung lebih panas karena tidak adanya efek
pendinginan dari pergerakan angin yang relatif bersifat lokal dan berubah-ubah.
Inilah yang menjelaskan suhu di beberapa kota terasa lebih panas pada musim pancaroba,
bukan karena efek pemanasan global seperti dikira sebagian masyarakat. Konveksi
lokal berpotensi terjadi.

Kini,
pengetahuan kita bertambah. Ternyata faktor pemanasan lautan Pasifik sangat
berpengaruh terhadap pembentukan awan dan hujan di Indonesia. Kita mengenal El
Nino dan La Nina. El Nino adalah fenomena suhu muka laut di Pasifik Timur
(sekitar perairan Peru) lebih tinggi daripada di Pasifik Barat (sekitar
perairan Indonesia). Akibatnya, awan dari wilayah Indonesia bergeser ke Pasifik
yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di Indonesia. Sebaliknya, ketika
Pasifik Barat lebih hangat daripada Pasifik Timur akan terjadi La Nina yang
menyebabkan awan dari Pasifik berkumpul di wilayah Indonesia. Akibatnya, musim
hujan di Indonesia akan semakin panjang. Awal 2009 kita mengalami La Nina lemah
sehingga hujan masih akan terus mengguyur sampai April-Mei. Lalu akhir 2009
sampai awal 2010 kita mengalami El-Nino moderat. Akibat pemanasan global,
frekuensi kejadian El-Nino dan La Nina menjadi semakin cepat. Dulu rata-rata
kejadiannya setiap 5 – 7 tahun, sekarang rata-rata kejadian antara 3 – 4 tahun.

Pada
tahun 1990-an para peneliti menemukan fenomena baru yang juga berpengaruh pada
variablitas iklim Indonesia. Ternyata suhu muka laut di lautan Hindia juga
berpengaruh yang dikenal sebagai fenomena moda dipol. Mirip dengan La Nina dan
El Nino, di lautan Hindia kita mengenal moda dipol negatif dan positif. Pada
saat moda dipol negatif, suhu muka laut lautan Hindia Timur (sekitar perairan
Indonesia)  lebih tinggi dari pada di
lautan Hindia Barat (sekitar perairan Afrika). Akibatnya awan dari lautan
Hindia berkumpul di atas Indonesia. Sebaliknya saat moda dipol positif,
perairan Afrika lebih hangat darpada perairan Indonesia sehingga awan dari
Indonesia cenderung bergeser ke arah lautan Hindia. Juli 2009 – Oktober 2009
kita mengalami moda dipol negatif sehingga dampak El Nino menjadi lemah.
Sedangkan November 2009 – awal 2010 kita mengalami moda dipol positif sehingga
kecenderungannya musim hujan sedikit hujan, memperkuat kondisi El Nino.

Dua
faktor lautan tersebut (Pasifik dan Hindia) sudah cukup mengeser awal musim
hujan dan musim kemarau di Indonesia. Karena frekuensi kejadian El Nino dan La
Nina semakin cepat akibat dampak pemanasan global, kita merasakan ketidakpastian
musim semakin tinggi. Kita tidak bisa lagi membuat generalisasi bahwa DJF
adalah musim hujan dan JJA adalah musim kemarau. Bisa saja karena faktor
El Nino-La Nina serta moda dipol positif dan negatif, musim hujan dan musim
kemarau bergeser.

Kita
sering mendengar ada petani yang terkecoh, dikira sudah masuk musim hujan
karena hujan turun setiap hari, nyatanya kemudian kering kembali. Sebaliknya,
dikira mulai masuk musim kemarau karena hujan tak turun lagi selama beberapa
hari, ternyata kemudian hujan masih turun. Atau kita sering merasakan pada saat
musim hujan ada jeda dengan cuaca cerah selama beberapa hari. Kini diketahui
ada periodisitas jangka pendek antara 1 – 2 bulanan terkait turunnya hujan yang
dikenal osilasi Madden-Julian. Ada masa konveksi pembentukan awan sangat kuat
yang terkait dengan banyaknya turun hujan dan ada masa konveksi pembentukan
awan sangat lemah yang terkait dengan kurangnya turun hujan.

Ada
periodisitas lain yang juga harus diperhatikan, faktor kosmogenik yang berasal dari antariksa. Pasang
surut air laut sudah lama diketahui berperiode 12 jam karena efek gravitasi
bulan. Tetapi ada saat-saat tertentu pasang mencapai maksimum karena efek
gabungan gravitasi bulan dan matahari. Itu terjadi sekitar bulan baru (sekitar tanggal
1 kalender Hijriyah/Saka) dan sekitar purnama. Pada saat itu banjir pasang
terjadi paling tinggi di daerah pantai yang menjangkau daratan yang lebih luas.

Faktor kosmogenik lainnya adalah dari aktivitas
matahari yang terkait dengan pancaran partikel energetik dan radiasi matahari
yang periodenya sekitar 11 tahunan. Banyak penelitian yang menunjukkan
pembentukan awan dan curah hujan dipengaruhi juga oleh periodisitas aktivitas
matahari. Ada kecenderungan curah hujan lebih tinggi atau lebih rendah pada
saat aktivitas matahari maksimum, tergantung daerahnya. Musim dingin ekstrem
saat ini di bumi belahan utara terkait erat dengan aktivitas matahari minimum
yang berkepenjangan saat ini.

Waspadai Efek Penguatan

Faktor-faktor yang
pengaruh tersebut perlu terus dipantau untuk mengkaji potensi bencana. Bila
faktor-faktor tersebut terjadi tidak bersamaan, potensi bencananya relatif
rendah. Tetapi perlu
diwaspadai efek penguatan potensi bencana bila kejadiannya bersamaan. La Nina
yang bersamaan dengan moda dipole negatif disertai dengan osilasi Madden-Julian
yang mengindikasikan penguatan konveksi pembentukan awan perlu diwaspadai
potensi curah hujan yang cukup tinggi. Potensi banjir akan akan makin parah bila daya dukung lingkungan buruk,
misalnya berkurangnya resapan dan terhambatnya saluran pembuangan air.

Lebih parah lagi kalau kejadiannya bersamaan
dengan pasang maksimum. Pada saat itu air laut meninggi. Curah hujan di laut
juga menambah volume air laut. Akibatnya, luapan air dari daratan tidak dapat
terbuang ke laut. Penurunan permukaan tanah di beberapa kota pantai makin
memperparah dampaknya.

Masa pancaroba yang
diperkuat dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan kuatnya konveksi
pembentukan awan, sangat berpotensi memicu pergerakan udara panas yang kaya uap
air ke atas secara cepat. Konveksi lokal ini dapat memicu terjadinya hujan
lebat yang disertai dengan butiran es bila uap air didorong tinggi mencapai
daerah yang sangat dingin atau terjadinya badai lokal berupa puting beliung.
Inilah yang terjadi pada pertengahan Maret 2009 sampai pekan ketiga di beberapa
kota. Fenomena yang mirip kondisi pancaroba (karena adanya tekanan rendah di
Barat Baya Indonesia) terjadi pada pertengahan Februari 2010 baru lalu. Efek
pemanasan lokal karena kurangnya vegetasi menambah potensi bencana hujan es dan
puting beliung.

Apa yang bisa kita
lakukan? Faktor alam hanya bisa kita waspadai. Faktor antropogenik dari
perilaku manusia harus kita perbaiki agar tidak memperkuat potensi bencana.
Memperbaiki daya dukung lingkungan adalah upaya mutlak yang harus dilakukan
saat ini juga., antara lain dengan memperbanyak resapan air, memperbaiki
saluran air, dan memperbanyak ruang terbuka hijau.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Video Ristek: Iptek dan Al-Quran

January 13th, 2010 by t_djamal

Takjub: Penciptaan dan Struktur Alam SemestaSitus Kementrian Ristek menyajikan juga Video Takjub. TAYANGAN TV TAKJUB merupakan program tayangan televisi bertema iptek-religi, memaparkan dunia
teknologi dengan mengupas sisi ilmu pengetahuan dan terjelaskan di
dalam ayat-ayat Al-Quran. Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya
Allah S.W.T. telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya
lahir dan bathin Dan di antara manusia ada yang membantah Keesaan-Nya
tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi
keterangan [Q.S. Luqman (31) ayat 20]
Saya sempat juga menjadi nara sumber untuk tema “Penciptaan dan Struktur Alam Semesta”.

Silakan kunjungi situsnya http://www.ristek.go.id/?module=File&frame=http://video.ristek.go.id/Takjub/

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Profesor Riset

December 26th, 2009 by t_djamal

Profesor
Riset dan Profesor (Akademik)

Ada
teman yang bertanya, apa beda Profesor Riset dengan Profesor (akademik) di
perguruan tinggi? Ada perbedaan, tetapi ada juga persamaannya. Sejenak kembali
ke sejarah munculnya profesor riset. Keberadaan profesor riset diawali dari
gagasan Pak Habibie saat menjadi Menristek tahun 1990-an untuk menghargai
profesi peneliti. Gagasan itu baru terwujud dengan keluarnya SK Menpan  2004 tentang Jabatan Fungsional Peneliti
serta SK bersama BKN dan Kepala LIPI yang mengatur pelaksanaannya. Profesor
Riset adalah gelar yang diberikan kepada Peneliti Utama IVe berpendidikan S3
yang telah menyampaikan orasi ilmiah dalam suatu upacara pengukuhan.

Jadi
perbedaan profesor riset dengan profesor akademik di perguruan tinggi adalah
perbedaan jalur profesi. Profesor akademik adalah gelar yang diberikan kepada
pemegang jabatan fungsional dosen yang tertinggi (yaitu Guru Besar), sedangkan
profesor riset diberikan kepada pemegang jabatan fungsional peneliti (yaitu
Peneliti Utama). Tentu perbedaan profesi menyebabkan unsur yang dinilai ada
perbedaan, tetapi ada beberapa unsur yang sama.

Pada
keduanya, kemampuan meneliti dan mempublikasikan karya tulis terkait
penelitiannya, membina kader ilmiah, serta pengabdian masyarakat merupaka
unsur-unsur yang dinilai. Penilaian seperti itu lazim disebut angka kredit
kumulatif. Berdasarkan Keppres 87/1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional, saat
ini ada kesetaraan jabatan dan pangkat untuk semua jabatan fungsional keahlian,
termasuk jabatan fungsional dosen dan peneliti.

Berikut
ini kesetaraan jabatan fungsional tersebut:

Angka Kredit               Pangkat                       Jabatan
Dosen              Jabatan
Peneliti

1050                       IVe                              Guru Besar               Peneliti Utama
850                       IVd                              Guru Besar               Peneliti Utama

700                        IVc                              Lektor Kepala             Peneliti Madya

550                        IVb                              Lektor Kepala             Peneliti Madya

400                        IVa                              Lektor Kapala             Peneliti Madya

300                        IIId                              Lektor                          Peneliti Muda

200                        IIIc                               Lektor                          Peneliti Muda

150                        IIIb                              Asisten Ahli                  Peneliti
Pertama

100                        IIIa                               Asisten Ahli                  Peneliti
Pertama

“Profesor” itu gelar
atau jabatan? Merujuk pada aturan jabatan fungsonal, “Profesor” adalah gelar
kehormatan yang tetap melekat, tidak ada batas waktunya, seperti halnya gelar
Doktor. Sedangkan jabatan fungsional Guru Besar atau Peneliti Utama bisa saja
berhenti karena tidak terpenuhinya angka kredit pemeliharaan atau karena
pensiun/berhenti. SK pemberhentian yang ada adalah SK pemberhentian jabatan
fungsionalnya, bukan surat pengukuhan profesornya, karena penetapannya berbeda.
Keluarnya SK Peneliti Utama atau Guru Besar tidak berarti  langsung dikukuhkan, perlu waktu untuk
menyiapkan orasi dan upacara pengukuhannya.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Orasi Profesor Riset (2/2)

December 10th, 2009 by t_djamal

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK MEMBERI SOLUSI (2/2)

T. Djamaluddin


III. MEMBUMIKAN ASTRONOMI

Majelis
dan hadirin yang saya hormati,

Sejak awal masuk sebagai peneliti LAPAN,
kesadaran bahwa astronomi sebagai ilmu murni tidak mungkin dikembangkan di
LAPAN seperti halnya di ITB dengan fasilitas Observatorium Bosscha, sudah
mengarahkan orientasi penelitian saya untuk membumikan astronomi, dalama makna mencari pemanfaatan astronomi bagi
kehidupan di bumi. Oleh karenanya sejak awal saya telah berupaya untuk
membumikan astronomi dengan mencari aplikasi fenomena astronomis yang secara
langsung memberi manfaat untuk pemahaman tentang ruang kehidupan di bumi. Salah
satunya adalah pemahaman karakteristik gerhana bulan yang dapat menggambarkan
kondisi lingkungan atmosfer bumi. Hasil kajian itu saya tuliskan dalam dua
makalah ”Analisis
Bayangan Gerhana Bulan Untuk Menafsirkan Karakteristik Atmosfer Atas”
(Djamaluddin, 1987b), dan “Interpretasi Penyebaran Debu Letusan Gunung Api dari
Bayangan Gerhana Bulan” (Djamaluddin, 1987c).

Seusai menyelesaikan
pendidikan di Jepang dengan fokus penelitian tentang materi antarbintang dan
pembentukan bintang, hal-hal yang saya upayakan untuk membumi adalah pemahaman
baru tentang pembentukan tata surya, sisa-sisanya berupa debu antarplanet,
komet, dan meteoroid, serta dampaknya pada bumi. Makalah pertama yang saya
tulis pada awal saya kembali aktif sebagai peneliti LAPAN adalah ulasan tentang
“Evolusi
Planet Bumi dan Pengaruh Lingkungan Tata  Surya” (Djamaluddin, 1994).
Kemudian mengarahkan program penelitian terkait dengan pengaruh kosmogenik
(berasal dari lingkungan antariksa) pada lingkungan bumi.

Penelitian dalam program penelitian tahunan 1995 bertema “Pengaruh
Mikrometeoroid dari Komet pada Pembentukan Awan dan Curah Hujan”
hasilnya dipublikasi di Majalah LAPAN (Djamaluddin, Suryantoro, dan
Suaydhi, 1996). Walau pun belum menemukan bukti yang kuat tetapi diperoleh
adanya indikasi debu-debu mikrometeoroid dari komet berpengaruh pada
peningkatan curah hujan. Interpretasi yang saya bahas dalam makalah tersebut
adalah kemungkinan mekanismenya terkait dengan peran mikrometeoroid sebagai
inti kondensasi awan tinggi (cirrus) yang kemudian butiran es itu menjadi inti
kondensasi bagi awan rendah. Interpretasi tersebut sebenarnya memerlukan
penelitian lanjutan karena selama ini awan cirrus selalu dianggap terbentuk
dari mekanisme pembentukan awan konvektif cumulonimbus yang menjulang sampai
troposfer atas. Sayangnya ketiadaan data pendukung untuk analisis partikel pada
air hujan menyebabkan penelitian lanjutan belum dapat saya lakukan. Kajian
lanjutan baru sampai pada ulasan “Keterkaitan antara Komet dan Hujan Meteor”
(Djamaludin, 1998) yang membahas lebih rinci tentang hujan meteor yang
dikaitkan dengan orbit komet-komet untuk mengidentifikasi kemungkinan pengaruhnya
di Indonesia.

Penelitian pengaruh lingkungan antariksa kemudian mengarah pada pengaruh
aktivitas matahari dan pasang-surut bulan-matahari pada bumi. Hasil penelitian
itu dipublikasi dengan judul “Pengaruh Aktivitas Matahari dan Faktor lainnya pada Suhu Atmosfer
Permukaan di Indonesia” (Djamaluddin,  Admiranto, dan Sinambela, 1997) dan
” Efek
Pasang Surut Bulan dan Aktivitas Matahari terhadap Curah Hujan di
Indonesia” (Djamaluddin, 1997). Walau ada indikasi pengaruh aktivitas matahari,
tetapi pengaruh pada suhu di Indonesia sebenarnya kurang tampak, karena
variasinya memang tidak terlalu besar. Pengaruh aktivitas matahari dan
pasang-surut bulan-matahari baru tampak pada curah hujan, khususnya untuk curah
hujan di Jakarta (sebagai sampel dengan data yang cukup panjang) yang cenderung
meningkat saat aktivitas matahari meningkat. Demikian juga periodisitas
pasang-surut bulan-matahari (luni-solar) juga mengindikasikan adanya pengaruh
pada curah hujan di Indonesia.

Pengetahuan baru tentang analisis wavelet yang saya peroleh saat workshop
di Brazil segera saya sebarkan kepada para peneliti LAPAN di Bandung dan segera
saya aplikasikan untuk mengkaji pengaruh aktivitas matahari pada liputan awan
di Indonesia. Hal menarik, penelitian “Efek Pasang Surut Bulan dan Aktivitas Matahari pada Penyebaran Awan
di Indonesia” (Djamaluddin, 1998) mengungkapkan secara meyakinkan berdasarkan analisis spektral wavelet bahwa
liputan awan di Indonesia terpengaruh oleh aktivitas matahari (terutama pada
musim kering) dan pasang-surut bulan-matahari. Memang analisis spektral lazim
digunakan untuk mengkaji pengaruh suatu fenomena terhadap fenomena lainnya
dengan menganalisis spektral periodisitasnya, dalam kondisi banyak faktor yang
dapat mempengaruhinya.

Penelitian lanjutan dengan menambahkan parameter lainnya (SOI
southern oscillation index – sebagai indikasi ENSO dan indeks liputan
debu letusan gunung) dipublikasi pada beberapa makalah:  “Influence of
Solar Activities, ENSO, and Stratospheric Aerosols on Cloud Amounts Over
Western Indonesia
” (Djamaluddin, 2002), “Solar Activity Influence
on Climate in Indonesia
” (Djamaludin, 2003), dan “Solar Activity Effects on Cloud Cover Over
Indonesia
” (Nugroho, and Djamaluddin, 2005). Penelitian lanjutan itu
menunjukkan bahwa liputan awan di atas Indonesia sangat kuat dipengaruhi oleh
liputan debu letusan gunung dan ENSO (El Nino Southern Oscillation). Analisis kemudian mengarahkan pada
indikasi bahwa mekanisme pengaruh aktivitas matahari pada liputan awan di
Indonesia tampaknya melalui mekanisme ENSO. Artinya, pengaruh aktivitas
matahari yang mengubah periodisitas ENSO yang kemudian mempengaruhi
periodisitas liputan awan di Indonesia. Indikasi itu berbeda dengan pemahaman
sampai saat itu seperti dirangkum dalam ulasan “Bukti-bukti Empirik Pengaruh Aktivitas
Matahari pada Iklim” (Djamaluddin, 2001). Justru indikasi seperti itu
mulai dikaji oleh para peneliti secara lebih mendalam dalam beberapa tahun
belakangan terkait dengan peranan laut dalam hubungan matahari-bumi.

Upaya saya
membumikan astronomi dengan mengembangkan penelitian dampak antariksa pada bumi
dipublikasi dalam makalah ”Mencari Aplikasi Astronomi: Faktor Kosmogenik pada
Iklim” (Djamaluddin, 2001) dan “Space Based Data: Between Pure
Science and Down-to-Earth Application in Indonesia” (Djamaluddin, 2004).
Bukan mengada-ada, tetapi itu merupakan upaya agar pemahaman astronomi yang
mencakup fenomena alam yang luas dapat dimanfaatkan bukan sekadar untuk
pengembangan sains.

Kajian tentang
dampak lingkungan antariksa pada bumi difokuskan pada masalah sampah antariksa.
Ini adalah awal penelitian tentang sampah antariksa yang menjadikan LAPAN
sebagai satu-satunya pusat informasi di Indonesia tentang sampah
antariksa.  Lingkungan antariksa yang mengandung ancaman tumbukan antara
satelit dengan benda antariksa alami (meteoroid) dan sampah antariksa diulas
dalam makalah “Masalah
Meteoroid dan Sampah Antariksa pada Satelit Geostasioner” (Djamaluddin,
2002) dan “Risiko Benda Jatuh Antariksa” (Djamaluddin, 2003).
Penelitian komprehensif tentang sampah antariksa yang dipengaruhi aktivitas
matahari dipublikasikan dalam makalah “Pengaruh Aktivitas  Matahari
Pada Kalahidup Satelit ” (Djamaluddin, 2005). Penelitian tersebut
menunjukkan secara lebih jelas bahwa pada masa matahari aktif, potensi sampah
antariksa jatuh ke bumi lebih banyak terjadi, artinya potensi bencana benda
jatuh antariksa di wilayah Indonesia yang merupakan daerah ekuator yang cukup
panjang relatif meningkat. Hal
ini harus menjadi perhatian bagi LAPAN dalam memberikan layanan informasi
potensi bahaya benda jatuh antariksa. Terkait dengan kondisi fisik lingkungan
antariksa di wilayah orbit satelit, ulasannya dituliskan dalam makalah “Kondisi
Lingkungan Antariksa di Wilayah Orbit Satelit” (Djamaluddin, 2006).

IV. ASTRONOMI
MEMBERIKAN SOLUSI

Majelis
dan hadirin yang saya hormati,

Membumikan astronomi tentu berorientasi pada upaya mencari
aplikasinya yang memberi manfaat bagi masyarakat dan memberikan solusi bagi
permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dua hal utama yang saya awali adalah
kajian benda jatuh antariksa di wilayah Indonesia dan tawaran solusi penyatuan
hari raya umat Islam dengan penyatuan kriteria astronomis tanpa
mempermasalahkan perbedaan metode hisab dan rukyat, namun tetap merujuk pada
dalil-dalil syar’i (hukum-hukum agama) yang disepakati bersama.

Pemahaman
astronomi orbit saya manfaatkan untuk mengkaji dan mengevaluasi benda jatuh
antariksa di Gorontalo (1981) dan Lampung (1988) yang lama tersimpan di
Kedeputian Teknologi Dirgantara LAPAN dan data waktu jatuhnya terdokumentasi
oleh Pusat Informasi dan Kedirgantaraan LAPAN. Saya berhasil
mengidentifikasikan kedua benda jatuh itu sebagai bagian dari motor roket SL-8
dan SL-4 milik Rusia, sedangkan lempengan yang jatuh di Bengkulu (2003)
berhasil saya identifikasi sebagai pecahan roket CZ-3 milik RRC. Saat stasiun
antariksa Mir jatuh terkendali pada 2001 dan satelit Bepposax jatuh tak
terkendali pada 2002, kajian orbitnya dimanfaatkan untuk memberikan layanan
informasi intensif kepada pemerintah dan masyarakat melalui situs web LAPAN dan
jalur komunikasi lainnya terkait potensi bencana benda jatuh antariksa,
berkoordinasi dengan Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB). Terkait dengan
mitigasi bencana benda jatuh antariksa tersebut telah dipublikasikan makalah
“Analisis Orbit dan Identifikasi Benda Jatuh Antariksa di Indonesia”
(Djamaluddin, 2004).

Pada sisi lain astronomi telah memberikan perangkat penting bagi kehidupan
manusia dalam hal penentuan waktu dan arah. Oleh karenanya untuk membumikan
astronomi dan mempopularisasikannya, saya telah menuliskan makalah teknis
ilmiah astronomi dan artikel ilmiah populer tentang penentuan waktu dan arah,
khususnya terkait dengan penentuan waktu ibadah dan penentuan arah kiblat bagi
umat Islam sebagai penduduk mayoritas Indonesia.

Beberapa makalah ilmiah dalam kaitan dengan pemanfaatan astronomi untuk
aplikasi di masyarakat telah saya publikasikan: “Peran Penting Almanak
Astronomi di Masyarakat” (Djamaluddin, 1995), “Visibilitas Hilal di Indonesia
(Djamaluddin, 2000), “Re-evaluation of Hilaal Visibility in Indonesia“,
(Djamaluddin, 2001), “Calendar Conversion Program Used to Analyze Early
History of Islam
” (Djamaluddin, 2001), dan “Prospek Astronomis
pada Penyatuan Kalender Islam di Indonesia” (Djamaluddin, 2003).
Melalui berbagai tulisan di media massa, seminar, ceramah, dan pelatihan, saya
mengupayakan titik temu antarormas Islam dalam penentuan awal Ramadhan, Idul
Fitri, dan Idul Adha dengan pendekatan astronomis yang dilandasi dalil-dalil
syar’i (hukum-hukum agama). Pada dasarnya perbedaan hari raya bukan disebabkan
oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi
karena perbedaan kriteria awal bulan. Selama ini ada dua kriteria dasar yang
sering menyebabkan perbedaan ketika tinggi bulan di antara kedua kriteria itu.
Kriteria wujudul hilal (bulan sabit sudah berada di atas ufuk) dengan tinggi
bulan sekitar 0 derajat yang digunakan Muhammadiyah dan kriteria imkan rukyat
(kemungkinan rukyat/teramati) dengan ketinggian bulan sekitar 2 derajat yang
digunakan Nahdlatul Ulama (NU). Jadi ketika tinggi bulan sekitar 0 – 2 derajat
dapat dipastikan akan terjadi perbedaan hari raya, seperti tahun 2006 dan 2007
lalu.
Berdasarkan kajian data rukyat di Indonesia dan analisis astronomis
(Djamaluddin, 2000), saya mengusulkan penyempurnaan dengan kriteria baru yang
saya sebut kriteria LAPAN. Dengan mengupayakan kriteria baru yang disepakati
(apakah kriteria LAPAN atau kriteria lain) insya-allah perbedaan penentuan hari
raya dapat dikurangi. Tinggal masalah pada beberapa kelompok kecil yang masih
menggunakan cara non-astronomis, seperti rukyat global, penentuan dengan hisab
urfi (perhitungan konstan), atau dengan penentuan pasang air laut. Untuk
masalah terakhir ini, pendekatannya bukan lagi secara astronomis, tetapi harus
dengan pendekatan lain.
Contoh nyata penyatuan umat lewat kesepakatan kriteria adalah dalam penentuan
jadwal shalat. Walau sebenarnya ada beberapa kriteria tinggi matahari untuk
jadwal shalat, ternyata semua ormas Islam dapat sepakat dengan kriteria yang
saat ini digunakan Departemen Agama RI. Hal serupa juga dapat terwujud kalau
semua ormas Islam dapat menyepakati satu kriteria awal bulan. Saat ini
upaya-upaya sosialisasi dan pendekatan masih terus dilakukan dan ada
tanda-tanda positif menuju titik temu. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama
lagi dapat dicapai satu kesepakatan. Kalau belum tercapai, tahun 2010 – 2014
kita akan menghadapi lagi perbedaan awal Ramadhan dan hari raya, setelah dua
tahun (2008 – 2009) posisi bulan-matahari memungkinkan kita untuk bersatu walau
dengan kriteria berbeda.


V. PENUTUP

Majelis
dan hadirin yang saya hormati,
Perjalanan karir fungsional saya konsisten mengembangkan astronomi sebagai
sains dan membumikan astronomi untuk memberi solusi bagi masyarakat. Sebagai
tanggung jawab ilmiah dan sosial sebagai seorang peneliti, saya telah berupaya
agar astronomi dapat berkontribusi dalam memajukan masyarakat melalui upaya
para penelitinya dengan pubikasi ilmiah yang berkualitas serta layanan informasi
yang mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan masyarakat. Secara langsung
atau tak langsung, astronomi, sebagai kompetensi  individual saya serta
tugas dan fungsi institusional  di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa
LAPAN, telah turut berkontribusi dalam menjelasksan fenomena astronomis yang
menjadi perhatian masyarakat (seperti badai matahari, gerhana, oposisi Mars,
komet, dan meteor), dalam mengupayakan mitigasi benda jatuh antariksa, dan
dalam memberikan solusi penyatuan hari raya yang berdampak sosial.

Ucapan Terima Kasih

Majelis dan hadirin yang saya
hormati,

Aspek
humanistik perjalanan karir peneliti saya, telah saya tuliskan dalam artikel ”Astronomi Jalan Hidup” di blog
saya    http:\\t-djamaluddin.spaces.live.com, termasuk tekad saya untuk mencapai Profesor Riset pada 2009 ini.
Walaupun karir fungsional lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri (berbeda
dengan karir struktural), harus saya ungkapkan bahwa banyak orang telah
berperan membantu saya. Pada akhir orasi ini, izinkan saya untuk menyampaikan
ucapan terima kasih kepada banyak pihak yang telah mengantarkan saya pada
jabatan Peneliti Utama IVe dan Profesor Riset bidang astronomi-astrofisika,
tanpa menyebutkan satu per satu karena demikian banyaknya.

Ucapan terima
kasih yang pertama tentu saya sampaikan kepada kedua orang tua saya yang telah
menanamkan kegigihan dan kejujuran yang menjadi bekal dalam segala langkah perjalanan
saya. Demikian juga kepada para guru dan pembimbing saya yang telah memberi
bekal ilmu dan semangat ilmiah. Kepada para pimpinan, Tim Penilai Peneliti
Instansi (TP2I) dan Tim Penilai Peneliti Pusat (TP3) beserta staf
sekretariatnya, kolega peneliti, staf teknisi, dan staf administrasi LAPAN yang
telah membantu melancarkan karir fungsional saya. Kepada Kepala LIPI selaku
Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset beserta anggota Majelis maupun Tim
Penilai Naskah Orasi kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan mengukuhkan
saya sebagai profesor riset. Juga kepada keluarga saya, istri dan anak-anak,
yang telah menjadi pendorong semangat dalam perjalanan karir saya.

Namun, dari sekian banyak orang yang berjasa, saya
harus menyebut satu nama yang paling banyak memberi warna semangat astronomis
dalam hidup saya, Prof. Dr. Bambang Hidayat. Pak Bambang adalah pembimbing
semasa mahasiswa di ITB, atasan di LAPAN saat saya menyelesaikan pendidikan di
Jepang, dan pendorong semangat ketika saya meniti karir peneliti astronomi.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin