Percepatan-Perlambatan Rotasi Bumi

March 4th, 2010 by t_djamal

ROTASI BUMI
DIPERCEPAT OLEH GEMPA DAN DIPERLAMBAT PASANG SURUT BULAN

 

Beberapa hari setelah gempa Chile 27 Februari
2010 peneliti JPL NASA mengabarkan bahwa gempa Chile berdampak pada percepatan
rotasi bumi dan pergeseran poros ”gambar bumi”. Bagi sebagian orang, berita
tersebut mengejutkan. Tetapi sebenarnya, percepatan dan pelambatan rotasi bumi terus terjadi. Bumi kita secara konstan diperlambat
olah pasang surut bulan dengan efek yang lebih kuat. Apa yang sesungguhnya terjadi?

http://www.jpl.nasa.gov/news/news.cfm?release=2010-071

Chilean Quake May Have Shortened Earth Days

March 01, 2010

The Feb. 27 magnitude 8.8 earthquake in Chile may have shortened the length
of each Earth day.

JPL research scientist Richard Gross computed how Earth’s rotation should have
changed as a result of the Feb. 27 quake. Using a complex model, he and fellow
scientists came up with a preliminary calculation that the quake should have
shortened the length of an Earth day by about 1.26 microseconds (a microsecond
is one millionth of a second).

Perhaps more impressive is how much the quake shifted Earth’s axis. Gross
calculates the quake should have moved Earth’s figure axis (the axis about
which Earth’s mass is balanced) by 2.7 milliarcseconds (about 8 centimeters, or
3 inches). Earth’s figure axis is not the same as its north-south axis; they
are offset by about 10 meters (about 33 feet).

By comparison, Gross said the same model estimated the 2004 magnitude 9.1
Sumatran earthquake should have shortened the length of day by 6.8 microseconds
and shifted Earth’s axis by 2.32 milliarcseconds (about 7 centimeters, or 2.76
inches).

Gross said that even though the Chilean earthquake is much smaller than the
Sumatran quake, it is predicted to have changed the position of the figure axis
by a bit more for two reasons. First, unlike the 2004 Sumatran earthquake,
which was located near the equator, the 2010 Chilean earthquake was located in
Earth’s mid-latitudes, which makes it more effective in shifting Earth’s figure
axis. Second, the fault responsible for the 2010 Chiliean earthquake dips into
Earth at a slightly steeper angle than does the fault responsible for the 2004
Sumatran earthquake. This makes the Chile fault more effective in
moving Earth’s mass vertically and hence more effective in shifting Earth’s
figure axis.

Gross said the Chile
predictions will likely change as data on the quake are further refined.

Pergeseran
lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi itu, bukan gempanya. Gempa
sekadar indikator pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi. Karena ada
pergeseran lempeng bumi, maka kesetimbangan “bola” bumi berubah. Sesungguhnya
“bola” bumi bukanlah bola sempurna, tetapi bola pepat di arah kedua kutubnya
(oblate spherical) dengan distribusi massa yang tidak merata. Dalam geodesi,
bentuk bumi yang tak mulus itu menjadi kajian menarik. Poros “gambar
bumi” geodetik itu dirumuskan sebagai poros yang menjadikan massa bumi relatif
setimbang di sekitar poros. Jadi poros “gambar bumi” (Earth’s figure
axis) tidak sama dengan poros astronomis (poros utara selatan) yang
menggambarkan poros rotasi bumi.

Apa akibat
pergeseran lempeng? Kesetimbangan “gambar bumi” sedikit berubah karena
titik massa kulit bumi bergesar. Akibatnya, poros “gambar bumi”
bergeser. Untuk kasus gempa Chile 2010 pergeserannya sekitar 8 cm (sudutnya
bergeser 2,7 mili detik busur =0,00000075 derajat, terlalu kecil untuk
dilihat). Dan untuk gempa Aceh 2004 pergeserannya 7 cm (sudutnya bergeser 2,32
mili detik busur = 0,00000064 derajat).

Akibat pergesaran
kesetimbangan massa bumi, rotasi bumi dipercepat 1,26 mikro detik =
0,000000126 detik, manusia tidak mungkin merasakannya). Sebenarnya soal percepatan-perlambatan
rotasi bumi, bukan hanya disebabkan oleh pergeseran lempeng. Efek pasang surut bulan
juga menyebabkan rotasi bumi diperlambat 0,00002 detik per tahun, jauh lebih kuat efeknya daripada gempa (lihat blog saya ”Sinkronisasi Bumi-Bulan” di

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!136

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Talents Mapping

February 27th, 2010 by t_djamal

MEMBACA POTENSI DIRI

 

Beberapa bulan lalu LAPAN memfasilitasi
analisis bakat (Talents Mapping) sebagian pegawainya. Menarik juga untuk membaca
potensi diri untuk dikembangkan. Tujuh bakat dominan perlu diperhatikan,
masing-masing orang pasti unik. Inilah tujuh bakat dominan saya menurut
analisis Talents Mapping.

1. DEVELOPER

2. IDEATION

3. CONNECTEDNESS

4. STRATEGIC

5. EMPATHY

6. HARMONY

7. ARRANGER

DEVELOPER: Senang memajukan orang lain dan melihat orang lain maju,
mendapatkan kepuasan dari melihat setiap kemajuan masing-masing individu.

-
Dia
melihat kemampuan yang ada pada orang lain. Semua kemampuan mereka itu dapat
terlihat oleh nya.

-
Ketika
berinteraksi dengan orang, dia bersedia menolong mereka mencarikan jalan untuk
mencapai tujuan.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: manager, guru, pelatih, pembimbing, petugas sosial.

IDEATION: Banyak ide, menyukai diskusi kelompok yang bebas, dan baik sekali
di dalam brainstorming.

-
Inovatif,
konsep, teori, dan soiusi merupakan hat yang penting bagi orang berbakat
Ideation.

-
Dia
memiliki cara yang sederhana untuk menjelaskan banyak kejadian, konsep yang
sangat mendasar seringkati dapat menjelaskan apa yang kelihatannya rumit dan
menemukan idea yang belum lengkap ini merupakan hat menyenangkan.

-
Dia
tergila-gita dengan ide-ide. Apakah ide itu? Ide adalah konsep, penjelasan
terbaik tentang berbagai kejadian.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: marketing, advertensi, wartawan, perancang, atau pengembang produk
baru.

CONNECTEDNES:  Memiliki keyakinan
dalam menjelaskan gejala secara ”bathin”

-
Penuh
pertimbangan, penuh perhatian, mudah menerima : inilah kata-kata yang tepat
baginya.

-
Segata
sesuatu terjadi pasti ada sebabnya. Dia yakin akan hal itu, karena dalam
hatinya dia tahu bahwa kita semua ini sating berkaitan.

Tema bakat ini merupakan satah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: pendengar dan pemberi saran (konselor), leader di dalam membangun team
yang berbeda kelompok, atau membantu orang merasa berguna.

STRATEGIC: Dapat memilih jalan terbaik dari berbagai pilihan berdasarkan data
dan intuisi, dapat melihat pola dari pengalaman dan data, isunya timbul dalarn
berbagai skenario.

-
“What
if?” nya timbut karena banyaknya pilihan di depan yang harus diambil.

-
Tema
Strategic memungkinkannya memilah di antara kekusutan dan menemukan jalur yang
terbaik.

-
Dia
memisahkan dan memilih sampai ditemukan lintasan yang terbaik.

Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: perencana strategis, manager, leader.

EMPATHY: Dapat merasakan perasaan orang lain seakan terjadi pada dirinya.

-
Mengerti
emosi yang sedang dialami seseorang, walaupun dia tidak selalu perlu setuju
dengan perasaan orang tersebut.

-
Dapat
“mendengarkan” pertanyaan yang tidak terungkapkan.

Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: sales, HRD, guru TK/SD, juru rawat, operator telepon, psikiater, dispatcher,
layanan pelanggan.

HARMONY: Dapat bekerjasama secara baik dengan orang lain.

-
Tidak
suka terhadap adanya konflik, setiap kali dia merasakan adanya perbedaan
pendapat atau perdebatan, dia akan menaruh perhatian terhadap apa yang pernah
terucapkan, memperhatikan apa yang terjadi dan berusaha mendamaikan dengan
menunjukkan adanya kesamaan dari kedua belah fihak

-
Dia
menganggap bahwa pertentangan dan gesekan itu tidak ada hasilnya, sehingga dia
berusaha menguranginya sekecil mungkin.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: pembangun jaringan antara orang-orang dengan cara pandang yang
berbeda, juru damai, penasehat.

ARRANGER: Dapat mengorganisir akan tetapi juga memiliki kelenturan yang
membantu pengaturannya.

-
Selalu
berusaha memikirkan kembali sesuatu. Slogannya adalah ”pasti ada jalan yang
lebih baik dari itu!”.

-
Dia
seorang koordinator. Berhadapan dengan situasi yang sulit yang melibatkan
banyak faktor, dia senang mengatur semuanya, meluruskan dan meluruskannya lagi
sampai dia merasa yakin bahwa dia tetah mengaturnya dalam konfigurasi yang
sangat produktif.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: supervisor, manager, event organizer, programmer

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Waspadai Potensi Bencana

February 27th, 2010 by t_djamal

MARI MEMBACA ALAM UNTUK MEWASPADAI POTENSI BENCANA

Thomas Djamaluddin

Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (Apr 2007 - Maret 2010)

Profesor Riset
Astronomi-Astrofisika,

 LAPAN

            Indonesia relatif rentan
terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan
lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting
beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi).
Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti gempa,
gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang terkait
dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan
tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat
penurunan permukaan tanah daerah pantai). Untuk mewaspadai potensi bencana, dua
hal harus diperhatikan: perubahan global-lokal dan variabilitas fenomena alam.
Membaca alam adalah memahami perubahan dan varibilitas itu untuk mengantisipasi
kemungkinan adanya potensi bencana.

Perubahan Global dan Lokal

Pemanasan global sering disebut-sebut sebagai
biang keladi meningkatnya bencana. Ada benarnya, tetapi faktor lokal juga harus
diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi
yang keliru. Akibat generalisasi keliru seolah-olah faktor penyebab utama
bencana adalah pemanasan global bisa membuat kita tidak sadar bahwa sumber
penyebabnya yang utama ada di sekitar kita sendiri. Kita juga menjadi tidak
sadar dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana.

Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual
temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2)
dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari
data, bukan fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu
akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di
media massa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah
menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan
global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit namun konsisten.

Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan
iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat
lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik
karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah
komposisi atmosfer maupun tataguna lahan. Perubahan Iklim kadang dibedakan
dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia
(antropogenik). Variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.

Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan
adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan di penghujung
milenium ketiga 2090 – 2099 bumi akan makin panas. Dampaknya, ada wilayah yang
makin tinggi curah hujannya (a.l. Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang
makin rendah curah hujannya (a.l. Indonesia bagian selatan). Data rata-rata
suhu Indonesia 1970 – 2004 menunjukkan kenaikan 0,2 – 1 derajat yang
berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan
salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu
berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat, perubahan suhu tersebut hanyalah
rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena
pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3 derajat dalam rentang waktu
yang sama.

Perubahan lokal berdampak
jangka pendek, dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota
terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanan berkurang. Banjir dan tanah
longsor semakin sering terjadi karena menurunnya daya dukung lingkungan.
Pembangunan telah mengubah tataguna lahan yang mengubah kesetimbangan alam.
Penambahan kepadatan penduduk telah memperburuk kondisi lingkungan sehingga
tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekali pun yang
berdampak banjir dan tanah longsor.

Variabilitas

Potensi bencana perlu
diwaspadai dengan mengkaji periodisitas dan variabilitasnya. Secara umum
kejadian di bumi sering bersifat periodik, berulang. Ada yang keberulangannya
mudah diprakirakan, seperti musim kemarau dan musim hujan. Tetapi ada juga yang
sulit, seperti kejadian gempa. Tetapi, kalau pun bisa diprakirakan,
keberulangannya tidak mungkin tetap karena banyak faktor yang mempengaruhinya.
Keberulangannya bisa bervariasi, lebih panjang atau lebih pendek. Jadi, ada
variabilitas.

Karena
banyak faktor yang mempengaruhi, datang dan perginya musim hujan dan musim
kemarau menjadi bervariasi. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Kegagalan dalam
memprakirakan sering berdampak pada kerugian. Para peneliti (termasuk di LAPAN)
kini berupaya memahami variabilitas itu dengan memahami banyak faktor yang
mempengaruhinya. Belum semua rahasia alam terkuak, tetapi kini semakin banyak
faktor telah difahami.

Dulu
kita hanya mengenal dua musim: musim hujan dan kemarau, dengan pancaroba pada
masa peralihannya. Faktor yang berpengaruh adalah perubahan posisi matahari
yang berubah periodik ke utara dan ke selatan, sehingga terjadinya fenomena
monsun, yaitu perubahan angin dari Asia-Pasifik dan Australia.
Desember-Januari-Februari (DJF) adalah musim hujan di sebagian besar wilayah
Indonesia karena adanya angin yang membawa uap air dari Pasifik dan Asia.
Sedangkan Juni-Juli-Agutus (JJA) adalah musim kemarau karena angin dari
Australia bersifat kering. Pada musim hujan dan kemarau udara cenderung lebih
dingin karena angin membawa udara dingin dari daerah yang sedang mengalami
musim dingin.

Maret-April-Mei (MAM)
dan September-Oktober-November (SON) adalah musim peralihan, pancaroba. Pada
musim pancaroba udara cenderung lebih panas karena tidak adanya efek
pendinginan dari pergerakan angin yang relatif bersifat lokal dan berubah-ubah.
Inilah yang menjelaskan suhu di beberapa kota terasa lebih panas pada musim pancaroba,
bukan karena efek pemanasan global seperti dikira sebagian masyarakat. Konveksi
lokal berpotensi terjadi.

Kini,
pengetahuan kita bertambah. Ternyata faktor pemanasan lautan Pasifik sangat
berpengaruh terhadap pembentukan awan dan hujan di Indonesia. Kita mengenal El
Nino dan La Nina. El Nino adalah fenomena suhu muka laut di Pasifik Timur
(sekitar perairan Peru) lebih tinggi daripada di Pasifik Barat (sekitar
perairan Indonesia). Akibatnya, awan dari wilayah Indonesia bergeser ke Pasifik
yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di Indonesia. Sebaliknya, ketika
Pasifik Barat lebih hangat daripada Pasifik Timur akan terjadi La Nina yang
menyebabkan awan dari Pasifik berkumpul di wilayah Indonesia. Akibatnya, musim
hujan di Indonesia akan semakin panjang. Awal 2009 kita mengalami La Nina lemah
sehingga hujan masih akan terus mengguyur sampai April-Mei. Lalu akhir 2009
sampai awal 2010 kita mengalami El-Nino moderat. Akibat pemanasan global,
frekuensi kejadian El-Nino dan La Nina menjadi semakin cepat. Dulu rata-rata
kejadiannya setiap 5 – 7 tahun, sekarang rata-rata kejadian antara 3 – 4 tahun.

Pada
tahun 1990-an para peneliti menemukan fenomena baru yang juga berpengaruh pada
variablitas iklim Indonesia. Ternyata suhu muka laut di lautan Hindia juga
berpengaruh yang dikenal sebagai fenomena moda dipol. Mirip dengan La Nina dan
El Nino, di lautan Hindia kita mengenal moda dipol negatif dan positif. Pada
saat moda dipol negatif, suhu muka laut lautan Hindia Timur (sekitar perairan
Indonesia)  lebih tinggi dari pada di
lautan Hindia Barat (sekitar perairan Afrika). Akibatnya awan dari lautan
Hindia berkumpul di atas Indonesia. Sebaliknya saat moda dipol positif,
perairan Afrika lebih hangat darpada perairan Indonesia sehingga awan dari
Indonesia cenderung bergeser ke arah lautan Hindia. Juli 2009 – Oktober 2009
kita mengalami moda dipol negatif sehingga dampak El Nino menjadi lemah.
Sedangkan November 2009 – awal 2010 kita mengalami moda dipol positif sehingga
kecenderungannya musim hujan sedikit hujan, memperkuat kondisi El Nino.

Dua
faktor lautan tersebut (Pasifik dan Hindia) sudah cukup mengeser awal musim
hujan dan musim kemarau di Indonesia. Karena frekuensi kejadian El Nino dan La
Nina semakin cepat akibat dampak pemanasan global, kita merasakan ketidakpastian
musim semakin tinggi. Kita tidak bisa lagi membuat generalisasi bahwa DJF
adalah musim hujan dan JJA adalah musim kemarau. Bisa saja karena faktor
El Nino-La Nina serta moda dipol positif dan negatif, musim hujan dan musim
kemarau bergeser.

Kita
sering mendengar ada petani yang terkecoh, dikira sudah masuk musim hujan
karena hujan turun setiap hari, nyatanya kemudian kering kembali. Sebaliknya,
dikira mulai masuk musim kemarau karena hujan tak turun lagi selama beberapa
hari, ternyata kemudian hujan masih turun. Atau kita sering merasakan pada saat
musim hujan ada jeda dengan cuaca cerah selama beberapa hari. Kini diketahui
ada periodisitas jangka pendek antara 1 – 2 bulanan terkait turunnya hujan yang
dikenal osilasi Madden-Julian. Ada masa konveksi pembentukan awan sangat kuat
yang terkait dengan banyaknya turun hujan dan ada masa konveksi pembentukan
awan sangat lemah yang terkait dengan kurangnya turun hujan.

Ada
periodisitas lain yang juga harus diperhatikan, faktor kosmogenik yang berasal dari antariksa. Pasang
surut air laut sudah lama diketahui berperiode 12 jam karena efek gravitasi
bulan. Tetapi ada saat-saat tertentu pasang mencapai maksimum karena efek
gabungan gravitasi bulan dan matahari. Itu terjadi sekitar bulan baru (sekitar tanggal
1 kalender Hijriyah/Saka) dan sekitar purnama. Pada saat itu banjir pasang
terjadi paling tinggi di daerah pantai yang menjangkau daratan yang lebih luas.

Faktor kosmogenik lainnya adalah dari aktivitas
matahari yang terkait dengan pancaran partikel energetik dan radiasi matahari
yang periodenya sekitar 11 tahunan. Banyak penelitian yang menunjukkan
pembentukan awan dan curah hujan dipengaruhi juga oleh periodisitas aktivitas
matahari. Ada kecenderungan curah hujan lebih tinggi atau lebih rendah pada
saat aktivitas matahari maksimum, tergantung daerahnya. Musim dingin ekstrem
saat ini di bumi belahan utara terkait erat dengan aktivitas matahari minimum
yang berkepenjangan saat ini.

Waspadai Efek Penguatan

Faktor-faktor yang
pengaruh tersebut perlu terus dipantau untuk mengkaji potensi bencana. Bila
faktor-faktor tersebut terjadi tidak bersamaan, potensi bencananya relatif
rendah. Tetapi perlu
diwaspadai efek penguatan potensi bencana bila kejadiannya bersamaan. La Nina
yang bersamaan dengan moda dipole negatif disertai dengan osilasi Madden-Julian
yang mengindikasikan penguatan konveksi pembentukan awan perlu diwaspadai
potensi curah hujan yang cukup tinggi. Potensi banjir akan akan makin parah bila daya dukung lingkungan buruk,
misalnya berkurangnya resapan dan terhambatnya saluran pembuangan air.

Lebih parah lagi kalau kejadiannya bersamaan
dengan pasang maksimum. Pada saat itu air laut meninggi. Curah hujan di laut
juga menambah volume air laut. Akibatnya, luapan air dari daratan tidak dapat
terbuang ke laut. Penurunan permukaan tanah di beberapa kota pantai makin
memperparah dampaknya.

Masa pancaroba yang
diperkuat dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan kuatnya konveksi
pembentukan awan, sangat berpotensi memicu pergerakan udara panas yang kaya uap
air ke atas secara cepat. Konveksi lokal ini dapat memicu terjadinya hujan
lebat yang disertai dengan butiran es bila uap air didorong tinggi mencapai
daerah yang sangat dingin atau terjadinya badai lokal berupa puting beliung.
Inilah yang terjadi pada pertengahan Maret 2009 sampai pekan ketiga di beberapa
kota. Fenomena yang mirip kondisi pancaroba (karena adanya tekanan rendah di
Barat Baya Indonesia) terjadi pada pertengahan Februari 2010 baru lalu. Efek
pemanasan lokal karena kurangnya vegetasi menambah potensi bencana hujan es dan
puting beliung.

Apa yang bisa kita
lakukan? Faktor alam hanya bisa kita waspadai. Faktor antropogenik dari
perilaku manusia harus kita perbaiki agar tidak memperkuat potensi bencana.
Memperbaiki daya dukung lingkungan adalah upaya mutlak yang harus dilakukan
saat ini juga., antara lain dengan memperbanyak resapan air, memperbaiki
saluran air, dan memperbanyak ruang terbuka hijau.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Video Ristek: Iptek dan Al-Quran

January 13th, 2010 by t_djamal

Takjub: Penciptaan dan Struktur Alam SemestaSitus Kementrian Ristek menyajikan juga Video Takjub. TAYANGAN TV TAKJUB merupakan program tayangan televisi bertema iptek-religi, memaparkan dunia
teknologi dengan mengupas sisi ilmu pengetahuan dan terjelaskan di
dalam ayat-ayat Al-Quran. Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya
Allah S.W.T. telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya
lahir dan bathin Dan di antara manusia ada yang membantah Keesaan-Nya
tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi
keterangan [Q.S. Luqman (31) ayat 20]
Saya sempat juga menjadi nara sumber untuk tema “Penciptaan dan Struktur Alam Semesta”.

Silakan kunjungi situsnya http://www.ristek.go.id/?module=File&frame=http://video.ristek.go.id/Takjub/

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Profesor Riset

December 26th, 2009 by t_djamal

Profesor
Riset dan Profesor (Akademik)

Ada
teman yang bertanya, apa beda Profesor Riset dengan Profesor (akademik) di
perguruan tinggi? Ada perbedaan, tetapi ada juga persamaannya. Sejenak kembali
ke sejarah munculnya profesor riset. Keberadaan profesor riset diawali dari
gagasan Pak Habibie saat menjadi Menristek tahun 1990-an untuk menghargai
profesi peneliti. Gagasan itu baru terwujud dengan keluarnya SK Menpan  2004 tentang Jabatan Fungsional Peneliti
serta SK bersama BKN dan Kepala LIPI yang mengatur pelaksanaannya. Profesor
Riset adalah gelar yang diberikan kepada Peneliti Utama IVe berpendidikan S3
yang telah menyampaikan orasi ilmiah dalam suatu upacara pengukuhan.

Jadi
perbedaan profesor riset dengan profesor akademik di perguruan tinggi adalah
perbedaan jalur profesi. Profesor akademik adalah gelar yang diberikan kepada
pemegang jabatan fungsional dosen yang tertinggi (yaitu Guru Besar), sedangkan
profesor riset diberikan kepada pemegang jabatan fungsional peneliti (yaitu
Peneliti Utama). Tentu perbedaan profesi menyebabkan unsur yang dinilai ada
perbedaan, tetapi ada beberapa unsur yang sama.

Pada
keduanya, kemampuan meneliti dan mempublikasikan karya tulis terkait
penelitiannya, membina kader ilmiah, serta pengabdian masyarakat merupaka
unsur-unsur yang dinilai. Penilaian seperti itu lazim disebut angka kredit
kumulatif. Berdasarkan Keppres 87/1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional, saat
ini ada kesetaraan jabatan dan pangkat untuk semua jabatan fungsional keahlian,
termasuk jabatan fungsional dosen dan peneliti.

Berikut
ini kesetaraan jabatan fungsional tersebut:

Angka Kredit               Pangkat                       Jabatan
Dosen              Jabatan
Peneliti

1050                       IVe                              Guru Besar               Peneliti Utama
850                       IVd                              Guru Besar               Peneliti Utama

700                        IVc                              Lektor Kepala             Peneliti Madya

550                        IVb                              Lektor Kepala             Peneliti Madya

400                        IVa                              Lektor Kapala             Peneliti Madya

300                        IIId                              Lektor                          Peneliti Muda

200                        IIIc                               Lektor                          Peneliti Muda

150                        IIIb                              Asisten Ahli                  Peneliti
Pertama

100                        IIIa                               Asisten Ahli                  Peneliti
Pertama

“Profesor” itu gelar
atau jabatan? Merujuk pada aturan jabatan fungsonal, “Profesor” adalah gelar
kehormatan yang tetap melekat, tidak ada batas waktunya, seperti halnya gelar
Doktor. Sedangkan jabatan fungsional Guru Besar atau Peneliti Utama bisa saja
berhenti karena tidak terpenuhinya angka kredit pemeliharaan atau karena
pensiun/berhenti. SK pemberhentian yang ada adalah SK pemberhentian jabatan
fungsionalnya, bukan surat pengukuhan profesornya, karena penetapannya berbeda.
Keluarnya SK Peneliti Utama atau Guru Besar tidak berarti  langsung dikukuhkan, perlu waktu untuk
menyiapkan orasi dan upacara pengukuhannya.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Orasi Profesor Riset (2/2)

December 10th, 2009 by t_djamal

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK MEMBERI SOLUSI (2/2)

T. Djamaluddin


III. MEMBUMIKAN ASTRONOMI

Majelis
dan hadirin yang saya hormati,

Sejak awal masuk sebagai peneliti LAPAN,
kesadaran bahwa astronomi sebagai ilmu murni tidak mungkin dikembangkan di
LAPAN seperti halnya di ITB dengan fasilitas Observatorium Bosscha, sudah
mengarahkan orientasi penelitian saya untuk membumikan astronomi, dalama makna mencari pemanfaatan astronomi bagi
kehidupan di bumi. Oleh karenanya sejak awal saya telah berupaya untuk
membumikan astronomi dengan mencari aplikasi fenomena astronomis yang secara
langsung memberi manfaat untuk pemahaman tentang ruang kehidupan di bumi. Salah
satunya adalah pemahaman karakteristik gerhana bulan yang dapat menggambarkan
kondisi lingkungan atmosfer bumi. Hasil kajian itu saya tuliskan dalam dua
makalah ”Analisis
Bayangan Gerhana Bulan Untuk Menafsirkan Karakteristik Atmosfer Atas”
(Djamaluddin, 1987b), dan “Interpretasi Penyebaran Debu Letusan Gunung Api dari
Bayangan Gerhana Bulan” (Djamaluddin, 1987c).

Seusai menyelesaikan
pendidikan di Jepang dengan fokus penelitian tentang materi antarbintang dan
pembentukan bintang, hal-hal yang saya upayakan untuk membumi adalah pemahaman
baru tentang pembentukan tata surya, sisa-sisanya berupa debu antarplanet,
komet, dan meteoroid, serta dampaknya pada bumi. Makalah pertama yang saya
tulis pada awal saya kembali aktif sebagai peneliti LAPAN adalah ulasan tentang
“Evolusi
Planet Bumi dan Pengaruh Lingkungan Tata  Surya” (Djamaluddin, 1994).
Kemudian mengarahkan program penelitian terkait dengan pengaruh kosmogenik
(berasal dari lingkungan antariksa) pada lingkungan bumi.

Penelitian dalam program penelitian tahunan 1995 bertema “Pengaruh
Mikrometeoroid dari Komet pada Pembentukan Awan dan Curah Hujan”
hasilnya dipublikasi di Majalah LAPAN (Djamaluddin, Suryantoro, dan
Suaydhi, 1996). Walau pun belum menemukan bukti yang kuat tetapi diperoleh
adanya indikasi debu-debu mikrometeoroid dari komet berpengaruh pada
peningkatan curah hujan. Interpretasi yang saya bahas dalam makalah tersebut
adalah kemungkinan mekanismenya terkait dengan peran mikrometeoroid sebagai
inti kondensasi awan tinggi (cirrus) yang kemudian butiran es itu menjadi inti
kondensasi bagi awan rendah. Interpretasi tersebut sebenarnya memerlukan
penelitian lanjutan karena selama ini awan cirrus selalu dianggap terbentuk
dari mekanisme pembentukan awan konvektif cumulonimbus yang menjulang sampai
troposfer atas. Sayangnya ketiadaan data pendukung untuk analisis partikel pada
air hujan menyebabkan penelitian lanjutan belum dapat saya lakukan. Kajian
lanjutan baru sampai pada ulasan “Keterkaitan antara Komet dan Hujan Meteor”
(Djamaludin, 1998) yang membahas lebih rinci tentang hujan meteor yang
dikaitkan dengan orbit komet-komet untuk mengidentifikasi kemungkinan pengaruhnya
di Indonesia.

Penelitian pengaruh lingkungan antariksa kemudian mengarah pada pengaruh
aktivitas matahari dan pasang-surut bulan-matahari pada bumi. Hasil penelitian
itu dipublikasi dengan judul “Pengaruh Aktivitas Matahari dan Faktor lainnya pada Suhu Atmosfer
Permukaan di Indonesia” (Djamaluddin,  Admiranto, dan Sinambela, 1997) dan
” Efek
Pasang Surut Bulan dan Aktivitas Matahari terhadap Curah Hujan di
Indonesia” (Djamaluddin, 1997). Walau ada indikasi pengaruh aktivitas matahari,
tetapi pengaruh pada suhu di Indonesia sebenarnya kurang tampak, karena
variasinya memang tidak terlalu besar. Pengaruh aktivitas matahari dan
pasang-surut bulan-matahari baru tampak pada curah hujan, khususnya untuk curah
hujan di Jakarta (sebagai sampel dengan data yang cukup panjang) yang cenderung
meningkat saat aktivitas matahari meningkat. Demikian juga periodisitas
pasang-surut bulan-matahari (luni-solar) juga mengindikasikan adanya pengaruh
pada curah hujan di Indonesia.

Pengetahuan baru tentang analisis wavelet yang saya peroleh saat workshop
di Brazil segera saya sebarkan kepada para peneliti LAPAN di Bandung dan segera
saya aplikasikan untuk mengkaji pengaruh aktivitas matahari pada liputan awan
di Indonesia. Hal menarik, penelitian “Efek Pasang Surut Bulan dan Aktivitas Matahari pada Penyebaran Awan
di Indonesia” (Djamaluddin, 1998) mengungkapkan secara meyakinkan berdasarkan analisis spektral wavelet bahwa
liputan awan di Indonesia terpengaruh oleh aktivitas matahari (terutama pada
musim kering) dan pasang-surut bulan-matahari. Memang analisis spektral lazim
digunakan untuk mengkaji pengaruh suatu fenomena terhadap fenomena lainnya
dengan menganalisis spektral periodisitasnya, dalam kondisi banyak faktor yang
dapat mempengaruhinya.

Penelitian lanjutan dengan menambahkan parameter lainnya (SOI
southern oscillation index – sebagai indikasi ENSO dan indeks liputan
debu letusan gunung) dipublikasi pada beberapa makalah:  “Influence of
Solar Activities, ENSO, and Stratospheric Aerosols on Cloud Amounts Over
Western Indonesia
” (Djamaluddin, 2002), “Solar Activity Influence
on Climate in Indonesia
” (Djamaludin, 2003), dan “Solar Activity Effects on Cloud Cover Over
Indonesia
” (Nugroho, and Djamaluddin, 2005). Penelitian lanjutan itu
menunjukkan bahwa liputan awan di atas Indonesia sangat kuat dipengaruhi oleh
liputan debu letusan gunung dan ENSO (El Nino Southern Oscillation). Analisis kemudian mengarahkan pada
indikasi bahwa mekanisme pengaruh aktivitas matahari pada liputan awan di
Indonesia tampaknya melalui mekanisme ENSO. Artinya, pengaruh aktivitas
matahari yang mengubah periodisitas ENSO yang kemudian mempengaruhi
periodisitas liputan awan di Indonesia. Indikasi itu berbeda dengan pemahaman
sampai saat itu seperti dirangkum dalam ulasan “Bukti-bukti Empirik Pengaruh Aktivitas
Matahari pada Iklim” (Djamaluddin, 2001). Justru indikasi seperti itu
mulai dikaji oleh para peneliti secara lebih mendalam dalam beberapa tahun
belakangan terkait dengan peranan laut dalam hubungan matahari-bumi.

Upaya saya
membumikan astronomi dengan mengembangkan penelitian dampak antariksa pada bumi
dipublikasi dalam makalah ”Mencari Aplikasi Astronomi: Faktor Kosmogenik pada
Iklim” (Djamaluddin, 2001) dan “Space Based Data: Between Pure
Science and Down-to-Earth Application in Indonesia” (Djamaluddin, 2004).
Bukan mengada-ada, tetapi itu merupakan upaya agar pemahaman astronomi yang
mencakup fenomena alam yang luas dapat dimanfaatkan bukan sekadar untuk
pengembangan sains.

Kajian tentang
dampak lingkungan antariksa pada bumi difokuskan pada masalah sampah antariksa.
Ini adalah awal penelitian tentang sampah antariksa yang menjadikan LAPAN
sebagai satu-satunya pusat informasi di Indonesia tentang sampah
antariksa.  Lingkungan antariksa yang mengandung ancaman tumbukan antara
satelit dengan benda antariksa alami (meteoroid) dan sampah antariksa diulas
dalam makalah “Masalah
Meteoroid dan Sampah Antariksa pada Satelit Geostasioner” (Djamaluddin,
2002) dan “Risiko Benda Jatuh Antariksa” (Djamaluddin, 2003).
Penelitian komprehensif tentang sampah antariksa yang dipengaruhi aktivitas
matahari dipublikasikan dalam makalah “Pengaruh Aktivitas  Matahari
Pada Kalahidup Satelit ” (Djamaluddin, 2005). Penelitian tersebut
menunjukkan secara lebih jelas bahwa pada masa matahari aktif, potensi sampah
antariksa jatuh ke bumi lebih banyak terjadi, artinya potensi bencana benda
jatuh antariksa di wilayah Indonesia yang merupakan daerah ekuator yang cukup
panjang relatif meningkat. Hal
ini harus menjadi perhatian bagi LAPAN dalam memberikan layanan informasi
potensi bahaya benda jatuh antariksa. Terkait dengan kondisi fisik lingkungan
antariksa di wilayah orbit satelit, ulasannya dituliskan dalam makalah “Kondisi
Lingkungan Antariksa di Wilayah Orbit Satelit” (Djamaluddin, 2006).

IV. ASTRONOMI
MEMBERIKAN SOLUSI

Majelis
dan hadirin yang saya hormati,

Membumikan astronomi tentu berorientasi pada upaya mencari
aplikasinya yang memberi manfaat bagi masyarakat dan memberikan solusi bagi
permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dua hal utama yang saya awali adalah
kajian benda jatuh antariksa di wilayah Indonesia dan tawaran solusi penyatuan
hari raya umat Islam dengan penyatuan kriteria astronomis tanpa
mempermasalahkan perbedaan metode hisab dan rukyat, namun tetap merujuk pada
dalil-dalil syar’i (hukum-hukum agama) yang disepakati bersama.

Pemahaman
astronomi orbit saya manfaatkan untuk mengkaji dan mengevaluasi benda jatuh
antariksa di Gorontalo (1981) dan Lampung (1988) yang lama tersimpan di
Kedeputian Teknologi Dirgantara LAPAN dan data waktu jatuhnya terdokumentasi
oleh Pusat Informasi dan Kedirgantaraan LAPAN. Saya berhasil
mengidentifikasikan kedua benda jatuh itu sebagai bagian dari motor roket SL-8
dan SL-4 milik Rusia, sedangkan lempengan yang jatuh di Bengkulu (2003)
berhasil saya identifikasi sebagai pecahan roket CZ-3 milik RRC. Saat stasiun
antariksa Mir jatuh terkendali pada 2001 dan satelit Bepposax jatuh tak
terkendali pada 2002, kajian orbitnya dimanfaatkan untuk memberikan layanan
informasi intensif kepada pemerintah dan masyarakat melalui situs web LAPAN dan
jalur komunikasi lainnya terkait potensi bencana benda jatuh antariksa,
berkoordinasi dengan Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB). Terkait dengan
mitigasi bencana benda jatuh antariksa tersebut telah dipublikasikan makalah
“Analisis Orbit dan Identifikasi Benda Jatuh Antariksa di Indonesia”
(Djamaluddin, 2004).

Pada sisi lain astronomi telah memberikan perangkat penting bagi kehidupan
manusia dalam hal penentuan waktu dan arah. Oleh karenanya untuk membumikan
astronomi dan mempopularisasikannya, saya telah menuliskan makalah teknis
ilmiah astronomi dan artikel ilmiah populer tentang penentuan waktu dan arah,
khususnya terkait dengan penentuan waktu ibadah dan penentuan arah kiblat bagi
umat Islam sebagai penduduk mayoritas Indonesia.

Beberapa makalah ilmiah dalam kaitan dengan pemanfaatan astronomi untuk
aplikasi di masyarakat telah saya publikasikan: “Peran Penting Almanak
Astronomi di Masyarakat” (Djamaluddin, 1995), “Visibilitas Hilal di Indonesia
(Djamaluddin, 2000), “Re-evaluation of Hilaal Visibility in Indonesia“,
(Djamaluddin, 2001), “Calendar Conversion Program Used to Analyze Early
History of Islam
” (Djamaluddin, 2001), dan “Prospek Astronomis
pada Penyatuan Kalender Islam di Indonesia” (Djamaluddin, 2003).
Melalui berbagai tulisan di media massa, seminar, ceramah, dan pelatihan, saya
mengupayakan titik temu antarormas Islam dalam penentuan awal Ramadhan, Idul
Fitri, dan Idul Adha dengan pendekatan astronomis yang dilandasi dalil-dalil
syar’i (hukum-hukum agama). Pada dasarnya perbedaan hari raya bukan disebabkan
oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi
karena perbedaan kriteria awal bulan. Selama ini ada dua kriteria dasar yang
sering menyebabkan perbedaan ketika tinggi bulan di antara kedua kriteria itu.
Kriteria wujudul hilal (bulan sabit sudah berada di atas ufuk) dengan tinggi
bulan sekitar 0 derajat yang digunakan Muhammadiyah dan kriteria imkan rukyat
(kemungkinan rukyat/teramati) dengan ketinggian bulan sekitar 2 derajat yang
digunakan Nahdlatul Ulama (NU). Jadi ketika tinggi bulan sekitar 0 – 2 derajat
dapat dipastikan akan terjadi perbedaan hari raya, seperti tahun 2006 dan 2007
lalu.
Berdasarkan kajian data rukyat di Indonesia dan analisis astronomis
(Djamaluddin, 2000), saya mengusulkan penyempurnaan dengan kriteria baru yang
saya sebut kriteria LAPAN. Dengan mengupayakan kriteria baru yang disepakati
(apakah kriteria LAPAN atau kriteria lain) insya-allah perbedaan penentuan hari
raya dapat dikurangi. Tinggal masalah pada beberapa kelompok kecil yang masih
menggunakan cara non-astronomis, seperti rukyat global, penentuan dengan hisab
urfi (perhitungan konstan), atau dengan penentuan pasang air laut. Untuk
masalah terakhir ini, pendekatannya bukan lagi secara astronomis, tetapi harus
dengan pendekatan lain.
Contoh nyata penyatuan umat lewat kesepakatan kriteria adalah dalam penentuan
jadwal shalat. Walau sebenarnya ada beberapa kriteria tinggi matahari untuk
jadwal shalat, ternyata semua ormas Islam dapat sepakat dengan kriteria yang
saat ini digunakan Departemen Agama RI. Hal serupa juga dapat terwujud kalau
semua ormas Islam dapat menyepakati satu kriteria awal bulan. Saat ini
upaya-upaya sosialisasi dan pendekatan masih terus dilakukan dan ada
tanda-tanda positif menuju titik temu. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama
lagi dapat dicapai satu kesepakatan. Kalau belum tercapai, tahun 2010 – 2014
kita akan menghadapi lagi perbedaan awal Ramadhan dan hari raya, setelah dua
tahun (2008 – 2009) posisi bulan-matahari memungkinkan kita untuk bersatu walau
dengan kriteria berbeda.


V. PENUTUP

Majelis
dan hadirin yang saya hormati,
Perjalanan karir fungsional saya konsisten mengembangkan astronomi sebagai
sains dan membumikan astronomi untuk memberi solusi bagi masyarakat. Sebagai
tanggung jawab ilmiah dan sosial sebagai seorang peneliti, saya telah berupaya
agar astronomi dapat berkontribusi dalam memajukan masyarakat melalui upaya
para penelitinya dengan pubikasi ilmiah yang berkualitas serta layanan informasi
yang mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan masyarakat. Secara langsung
atau tak langsung, astronomi, sebagai kompetensi  individual saya serta
tugas dan fungsi institusional  di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa
LAPAN, telah turut berkontribusi dalam menjelasksan fenomena astronomis yang
menjadi perhatian masyarakat (seperti badai matahari, gerhana, oposisi Mars,
komet, dan meteor), dalam mengupayakan mitigasi benda jatuh antariksa, dan
dalam memberikan solusi penyatuan hari raya yang berdampak sosial.

Ucapan Terima Kasih

Majelis dan hadirin yang saya
hormati,

Aspek
humanistik perjalanan karir peneliti saya, telah saya tuliskan dalam artikel ”Astronomi Jalan Hidup” di blog
saya    http:\\t-djamaluddin.spaces.live.com, termasuk tekad saya untuk mencapai Profesor Riset pada 2009 ini.
Walaupun karir fungsional lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri (berbeda
dengan karir struktural), harus saya ungkapkan bahwa banyak orang telah
berperan membantu saya. Pada akhir orasi ini, izinkan saya untuk menyampaikan
ucapan terima kasih kepada banyak pihak yang telah mengantarkan saya pada
jabatan Peneliti Utama IVe dan Profesor Riset bidang astronomi-astrofisika,
tanpa menyebutkan satu per satu karena demikian banyaknya.

Ucapan terima
kasih yang pertama tentu saya sampaikan kepada kedua orang tua saya yang telah
menanamkan kegigihan dan kejujuran yang menjadi bekal dalam segala langkah perjalanan
saya. Demikian juga kepada para guru dan pembimbing saya yang telah memberi
bekal ilmu dan semangat ilmiah. Kepada para pimpinan, Tim Penilai Peneliti
Instansi (TP2I) dan Tim Penilai Peneliti Pusat (TP3) beserta staf
sekretariatnya, kolega peneliti, staf teknisi, dan staf administrasi LAPAN yang
telah membantu melancarkan karir fungsional saya. Kepada Kepala LIPI selaku
Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset beserta anggota Majelis maupun Tim
Penilai Naskah Orasi kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan mengukuhkan
saya sebagai profesor riset. Juga kepada keluarga saya, istri dan anak-anak,
yang telah menjadi pendorong semangat dalam perjalanan karir saya.

Namun, dari sekian banyak orang yang berjasa, saya
harus menyebut satu nama yang paling banyak memberi warna semangat astronomis
dalam hidup saya, Prof. Dr. Bambang Hidayat. Pak Bambang adalah pembimbing
semasa mahasiswa di ITB, atasan di LAPAN saat saya menyelesaikan pendidikan di
Jepang, dan pendorong semangat ketika saya meniti karir peneliti astronomi.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Orasi Profesor Riset (1/2)

December 10th, 2009 by t_djamal

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK MEMBERI SOLUSI (1/2)

T. Djamaluddin

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Majelis Pengukuhan
Profesor Riset dan hadirin yang saya hormati,

Alhamdulillah, Allah telah memberikan bimbingan dan kekuatan kepada saya
untuk mencapai jabatan fungsional tertinggi, Peneliti Utama IVe bidang
Astronomi-Astrofisika. Dengan orasi ilmiah ini, insya-allah jabatan profesor
riset akan dikukuhkan. Jabatan profesor riset adalah jabatan tertinggi yang
dicita-citakan oleh seorang peneliti dalam pengembangan karir fungsionalnya.

Orasi ilmiah ini merupakan uraian jejak ilmiah karir fungsional saya di
hadapan Majelis Pengukuhan Profesor Riset dan para hadirin, dengan memaparkan perjalanan
kegiatan kepakaran saya yang berangkat dari astronomi murni, kemudian
membumikan astronomi dalam makna mencari pemanfaatan astronomi bagi kehidupan
di bumi, sampai pemikiran saya dalam memberikan solusi bagi pemerintah dan
masyarakat dengan memanfaatkan pemahaman astronomi. Oleh karenanya orasi ini
saya beri judul :

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK

MEMBERI SOLUSI

 

Dalam pemaparannya, orasi ilmiah ini saya bagi dalam lima bab berikut :

I.
Pendahuluan

II.
Berangkat dari
Astronomi Murni

III.
Membumikan Astronomi

IV.
Astronomi Memberi
Solusi

V.
Penutup

Bagi seorang Muslim, jabatan adalah amanah yang harus dijaga, bukan
dibanggakan. Oleh karenanya, orasi ini pun sebagai pertanggungjawaban amanah
jabatan fungsional Peneliti Utama saya. Dalam perjalanannya telah banyak
dibantu oleh banyak pihak: keluarga, pimpinan, kolega sesama peneliti, staf
teknisi dan administrasi, serta pihak-pihak lain, baik di LAPAN maupun di luar
LAPAN. Jazaakumullah khairan katsiraa, semoga Allah membalas mereka dengan
kebaikan yang melimpah.


I. PENDAHULUAN

Majelis dan hadirin
yang saya hormatii,

Suatu
hari di kelas I SMP Negeri 1 Cirebon seorang guru meminta para siswa menuliskan
cita-citanya. Dengan mantap saya tuliskan “Menjadi Peneliti”. Ya, menjadi
peneliti adalah cita-cita saya sejak kecil. Saat SD, saya temukan sebuah kunci
gembok bekas berkarat di kebun belakang rumah lalu saya pecahkan dengan palu
dan berhari-hari saya ulik cara kerja kunci gembok tersebut. Saya juga gemar
mengamati biji-biji yang tumbuh saat awal musim hujan dan tunas pohon pisang
yang mampu menembus lapisan semen. Saya kumpulkan berbagai jenis biji dan batu.
Saya buat eksperimen kimia sendiri dengan bekas lampu neon.

Saya memang gemar
membaca dan banyak ingin tahu akan segala sesuatu. Dengan segala keterbatasan
fasilitas, saya baca buku-buku IPA dan Ilmu Bumi untuk SMP milik kakak sepupu
saat saya duduk di kelas V SD. Ada manfaatnya juga. Guru saya memuji bahwa soal
tentang asal-usul minyak bumi saat THB (Test Hasil Belajar) hanya saya yang
bisa menjawab, padahal di kelas pun belum pernah diajarkan. Pujian itu pula
yang akhirnya membangkitkan kembali semangat saya setelah nyaris putus sekolah
karena masalah biaya.

Semula
saya tertarik dengan penelitian tumbuhan. Namun saat kelas III SMP, saya
membaca majalah iptek populer “Mekatronika” dan “Scientiae” yang pada terbitan
waktu itu banyak mengulas soal UFO (Unidentified Flying Objects, “piring
terbang”) dan antariksa. Ketertarikan pada soal antariksa diperkuat saat SMA.
Bermula dari keinginan untuk mengkaji dan menulis tentang “UFO: Bagaimana
menurut Agama”, saya banyak membaca buku-buku dan Encyclopedia Americana yang
membahas astronomi. Alhamdulillah, dengan bantuan teman yang mengetikkan naskah
saya, tulisan itu bisa dimuat di majalah Scientiae, No. 93/1979, saat saya
kelas I SMA. Itulah publikasi hasil kajian
saya yang pertama, walau baru sebagai karya ilmiah populer. Ada juga
hasil karya penelitian tentang kromatografi kertas yang dikirimkan dalam Lomba
Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI.

Alhamdulillah,
tawaran PP II (Proyek Perintis II, penerimaan mahasiswa tanpa test berdasarkan
penelusuran minat dan kemampuan) di ITB memberi jalan untuk menjadi peneliti
astronomi-atrofisika. Materi kuliah dan aktivitas lain yang mendukung
pematangan sikap ilmiah selama menjadi mahasiswa astronomi ITB memberi bekal
cukup banyak untuk menjadi peneliti. Motivasi Qur’aniyah juga memperkuat tekad
saya untuk mempelajari alam semesta.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS.3:190-191)

II. BERANGKAT DARI ASTRONOMI MURNI

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Hanya
sempat menjadi “penganggur” selama 2 pekan, seusai wisuda sarjana astronomi di
ITB pada 16 Oktober 1986 dengan tugas akhir “Distribusi Bintang OB2 di Arah
Puppis”, saya memantapkan diri menjadi peneliti antariksa jauh di Bidang
Antariksa LAPAN sejak 1 November 1986. Makalah pertama yang saya hasilkan
sebagai peneliti junior adalah “Pendekatan Atmosfer Kelabu bagi Fotosfer dan Sunspot”
(Djamaluddin, et al., 1987). Disusul menjadi penulis tunggal ”Koreksi Orientasi Sumbu Polar
Teleskop Ekuatorial” (Djamaluddin, 1987a), ”Analisis Bayangan Gerhana Bulan
Untuk Menafsirkan  Karakteristik Atmosfer
Atas” (Djamaluddin, 1987b), dan “Interpretasi Penyebaran Debu Letusan Gunung
Api dari Bayangan Gerhana Bulan” (Djamaluddin, 1987c). Menjelang tugas belajar
ke Jepang (April 1988) saya penyelesaikan makalah penelitian “Penentuan Posisi
Komet” (Djamaluddin, 1988). Sebagai pegawai LAPAN junior, saya telah menemukan
jalan hidup saya yang telah saya cita-citakan sejak SMP: menjadi peneliti. Kegemaran saya menulis sejak SMP pun banyak mendukung
profesi saya.

Di Universitas Kyoto, profesionalisme sebagai peneliti
diasah dengan aktif mengikuti kegiatan ilmiah. Beberapa makalah yang saya presentasikan: ”Bimodal Star Formation
(Djamaluddin, 1982), “Interstellar Medium
in the Solar Vicinity
” (Djamaluddin, 1990), “A New H‑Beta and (CaT+P12)
CCD Photometry for Determining Distance of Nearby Interstellar Clouds

(Djamaluddin, 1991) , “Possibility of Using NIR Ca II Triplet + Paschen 12
Lines Photometry in Searching New T‑Tauri Stars
” (Djamaluddin, 1992). Fokus
penelitian saya pada program master adalah mencari metode fotometri baru untuk
penentuan jarak awan antarbintang dan mencari bintang-bintang baru.

Penelitian
lanjutan di program doktor adalah menemukan jejak evolusi bintang baru
(protostar) dari awan antarbintang menjadi bintang muda dengan data satelit
infra merah (IRAS, Infrared Astronomical Satellite). Di samping itu, bersama
grup ekstragalaksi, dengan memanfaatkan data IRAS dan peta bintang, saya turut
melakukan survai untuk menemukan struktur besar alam semesta dari data
inframerah yang sebelumnya tak tampak. Hasil survai tim peneliti tersebut
dipublikasikan menjadi “A Search for IRAS Galaxies Behind the Southern
Milky  Way
” (Yamada et al., 1993)
dan “Connection of Large‑Scale of the Galaxy Distribution  behind the Southern Milky Way” (Yamada,
et al., 1993).

Dalam
disertasi doktor saya, jejak evolusi bintang muda yang baru keluar dari awan
antarbintang berhasil digambarkan dalam diagram serupa diagram Herzprung-Russel
bagi bintang tampak, tetapi dengan panjang gelombang inframerah. Karena
penekanannya pada pembaruan diagram H-R
inframerah yang menggambarkan jejak evolusi bintang muda, dua
publikasinya menggunakan judul yang sama “A Far‑Infrared H‑R Diagram of
Young Stellar Objects
”,  tetapi
dengan pendalaman yang berbeda. Publikasi pertama (Djamaluddin and Saito, 1995)
memberikan pendalaman pada katalog objek-objek sampel di beberapa awan
antarbintang dekat, sedangkan publikasi berikutnya (Djamaluddin and Saito,
1996) memberikan pendalaman proses fisisnya.

Seusai
program doktor, saya kembali ke LAPAN untuk mengintegrasikan pemahaman
astronomi inframerah, debu dan gas di antariksa, serta astronomi berbasis
antariksa dengan program penelitian antariksa di Bidang Matahari dan Lingkungan
Antariksa. Saya menyadari tidak mungkin penelitian astronomi murni terkait pembentukan
bintang dikembangkan di LAPAN. Tetapi banyak alat bantu fisis-astronomis yang
saya pelajari bisa saya terapkan untuk mendukung penelitian lingkungan
antariksa di LAPAN. Kajian asal-usul bintang bisa diterapkan pada asal-usul
matahari dengan sisa-sisanya berupa komet dan hujan meteor yang menjadi
fenomena penting di lingkungan antariksa yang secara langsung atau tak langsung
berpengaruh pada lingkungan bumi. Kajian
tersebut dipublikasi dengan judul “Telaah Orbit Komet dalam Kaitannya dengan Hujan Meteor” (Djamaluddin, 1995) dan “Variation of Meteors as Detected by
Meteor Wind Radar in Indonesia
” (Djamaluddin, 2002).

Fasilitas kerjasama LAPAN - Universitas Kyoto
berupa Meteor Wind Radar (MWR) di Kototabang (sebelumnya di Serpong dengan
kerjasama bersama BPPT) memungkinkan mengkaji aspek astronomis dari data fluks
meteor. Beberapa makalah dihasilkan
dari penelitian dengan menggunakan data MWR tersebut, yaitu “Analisis
Lingkungan Antariksa Berdasarkan Influks Meteor dari Meteor Wind Radar Serpong
dan Kototabang” (Djamaluddin, 2006), “Pengembangan Model Fluks Mikrometeoroid
dari Data Meteor Wind Radar” (Djamaluddin, 2006), dan “Micrometeoroid
Affected by Solar Activity
” (Djamaluddin,
2007). Penelitian kaitan pengaruh aktivitas matahari pada fluks meteor
menghasilkan indikasi yang berbeda dengan hasil penelitian beberapa peneliti
sebelumnya. Saya menyimpulkan bahwa pengaruh aktivitas matahari bukan akibat
perubahan kerapatan atmosfer tempat terjadinya fenomena meteor, tetapi
tampaknya karena variasi kerapatan mikrometeoroid di lingkungan antariksa.

Walaupun fokus penelitian tugas akhir
pendidikan  saya adalah pembentukan
bintang dan struktur galaksi serta struktur besar alam semesta, fisika bintang
dan fisika matahari merupakan mata kuliah utama yang juga harus saya pelajari
selama kuliah astronomi. Karenanya, ketika Bidang Matahari dan Lingkungan
Antariksa (yang kemudian berubah menjadi Bidang Matahari dan Antariksa) juga
menuntut saya masuk pada penelitian matahari, saya tinggal mengintegrasikan
ilmu yang saya pelajari dengan kebutuhan lembaga. Beberapa publikasi penelitian
fisika matahari adalah ”Evolution of Solar Activities Periodicity and
Possible Relation to solar Inertial Motion
” (Djamaluddin, 2002), Prediktibilitas Cuaca Antariksa” (Djamaluddin,
2003), ”Solar
Activity Prediction from Reconstruction of Wavelet Analysis
” (Djamaluddin,
2003), ”Prediction of Solar Cycle 24 Based on Wavelet Analysis of Asymmetric
Hemispheric Sunspot Number
” (Djamaluddin, 2005a), dan ”Metode Baru
Prakiraan Siklus Aktivitas Matahari dari Analisis Periodisitas” (Djamaluddin,
2005b).

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Isra’ Mi’raj Dipahami dengan Sains (3)

November 2nd, 2009 by t_djamal

TUJUH LANGIT PADA
KISAH ISRA’ MI’RAJ

Dua tulisan saya sebelumnya tentang tujuh langit dalam kisah
isra’ mi’raj dan perjalanan antar dimensi dapat di lihat di link berikut ini.
Tulisan ketiga ini hanyalah menataulang dan melengkapinya dalam satu uraian utuh.

 

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!292

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!300

Pada kisah isra’
mi’raj, “tujuh langit” tampaknya bukan langit fisik benda-benda langit, tetapi
langit non-fisik. Karena dalam kisah itu bercampur fenomena fisik dan banyak
fenomena non-fisik. Fenomena fisik misalnya perjalanan dari Mekkah ke
Palestina, melihat kafilah dalam perjalanan yang menjadi bukti perjalanan
Rasulullah, dan Rasulullah SAW meminum susu ketika ditawari dua bejana minuman.
Tetapi banyak juga fenomena non-fisik yang dialami Rasulullah SWA, misalnya
perjalanan bersama malaikat Jibril, pertemuan dengan beberapa Nabi, dan melihat
Sidratul Muntaha yang tidak ada penjelasan konsisi dan lokasi fisiknya.

Perjalanan
Rasulullah dalam dalam kisah isra’ mi’raj lebih tepat dimaknai sebagai
perjalanan antardimensi, karena ada fenomena fisik yang kita kenal dalam
dimensi ruang-waktu, tetapi banyak juga fenomena di luar dimensi ruang-waktu.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
(QS 17:1)

“Dan Sesungguhnya
Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain,  (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di
dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil
Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya
Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling
besar.” (QS 53:13:18)

Perjalanan antardimensi bermakna bahwa Rasulullah
SAW bersama Jibril diajak keluar dari dimensi ruang-waktu, menuju dimensi yang
lebih tinggi. Apakah dimensi itu? Dimensi adalah suatu kerangka acuan yang
menggambarkan alam ini. Dimensi satu berupa garis, dengan gerak maju atau
mundur saja. Dua dimensi berupa bidang dengan gerak yang lebih bebas: maju,
mundur, ke kiri, atau ke kanan. Dimensi tiga lebih bebas lagi, selain gerak di
bidang datar, bisa juga ke atas atau ke bawah. Dimensi empat geraknya bukan
hanya di ruang, tetapi juga gerak waktu. Kita hidup di dimensi emapt,
ruang-waktu. Karenanya kita selalu mengukur berdasarkan ukuran ruang (seperti
besar, kecil, jauh, dekat) dan waktu (seperti masa lalu, sekarang, masa depan,
lama, sebentar).

Untuk memahami perjalanan antarwaktu, kita
ibaratkan ada  alam dua dimensi
berbentuk bidang “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut. Semut
tersebut untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke ujung yang lain harus
menempuh jarak yang jauh.. Kita yang hidup di ruang tiga dimensi dengan
mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak
semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas
lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antardimensi.
Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan
hamba-Nya, Rasulullah SAW bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi
rlebih tinggi dari dimensi ruang-waktu. Logika sains seperti itu hanya untuk
menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj dengan jasadnya (bukan sekadar dengan ruh) bukan
hal yang mustahil.

Bersama Jibril Rasulullah SAW keluar dari dimensi
ruang-waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan
waktu dalam dimensi ruang waktu tidak mungkin berjalan mundur. Dengan keluar
dimensi ruang-waktu Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah
masih bisa mengamati kafilah dalam perjalanannya dan tetap bisa merasakan
fenonema fisik dimensi ruang-waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril.
Rasulullah pun dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan
waktu. Rasulullah pun mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan
fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di
mana dan kapan adanya.

Langit pada kisha Isra’ Mi’raj pun bukan langit
fisik seperti “tujuh langit” dalam ungkapan Al-Quran. QS 17:1 dan QS 53:13-18
yang menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj tidak menyebutkan tujuh
langit. Sebutan langit pertama sampai ke tujuh pada kisah Isra’ dan Mi’raj
hanya da dalam hadits dan yang menggambarkan perjalanan  yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia,
tetapi diyakini benar terjadi. Dimensi ruang waktu tidak lagi membatasi.
Setelah Isra’ dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah mi’raj ke langit.
Di langit pertama sampai langit ke tujuh Rasulullah bertemu dengan para Nabi. Di langit pertama
bertemu Nabi Adam. Di Langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi
Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke
empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di
langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Jelas pertemuan dengan para Nabi itu bukan
di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidaklah
berada di planet-palnet tertentu.

Sidratul Muntaha pun bukan suatu tempat dan saat
yang keberadaannya dalam dimensi ruang-waktu. Keyakinan adanya dimensi lain di
alam juga didasari pada keyakinan adanya Jin dan Malaikat  yang berada di luar dimensi ruang-waktu. Dua
jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang sehingg dengan mudahnya pergi ke
mana pun dan tidak dibatasi waktu
sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah.
Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang
hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk serupa
semut tersebut, tetapi makhluk  itu
tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya. Demikian juga
halnya manusia tidak mengetahui keberadaan Jin dan Malaikat, walau kita tahu
mereka ada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita.

Kisah
isra’ mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan
Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya dengan buraq. Bila kita gunakan
teori relativitas fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori
relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya,
waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. Artinya, orang yang
berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang
dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh
karenannya kita mengenal “paradox anak kembar” (twin paradox) pada teori
relativitas, saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya
akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut
rekaman waktu yang dibawanya. Yang dialami Rasulullah SAW, justru kebalikannya.
Rasulullah meengalami perjalanan waktu sangat panjang sehingga bertemu dengan
para Nabi dan berbagai peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang
ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam.

Logika
sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW sebagai perjalanan
antardimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa isra’ dan mi’raj benar
adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekadar mimpi atau perjalanan dengan
ruh. Perjalanan antardimensi oleh manusia biasa memang belum memungkinkan
secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekadar dimensi
ruang-waktu dikenal dalam sains. Sains dapat membantu memperkuat aqidah kita,
tanpa harus mereka-reka dalam cerita psudosains (sains semu, karena tidak
didasarkan sains yang benar).

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Meteorit Asteroid Jatuh di Bone

October 26th, 2009 by t_djamal

LEDAKAN BONE DIDETEKSI SEBAGAI “SUPERBOLIDE”
(BOLA API BESAR)

Ledakan di perairan Bone yang saya duga sebagai
ledakan meteorit besar ternyata benar. Ini catatan saya sebelumnya http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!608.entry

Ternyata sistem
pemantau internasional untuk larangan percobaan nuklir  dari 11
stasiun melaporkan mendeteksi adanya ledakan besar yang berpusat di sekitar lintang
4,5 LS, 120 BT, sekitar pukul 11.00 WITA pada 8 Oktober 2009, seperti laporan
media massa.  Analisis
ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar  50 kiloton TNT diduga akibat meteorit yang
berasal dari asteroid berukuran sekitar 10 meter. Ledakan terjadi karena
tekanan atmosfer yang menyebabkan pelepasan
energi yang cukup besar. Ledakan tersebut juga sinyalnya mencapai stratosfer
yang tingginya lebih dari 20 km. Diperkirakan
meteorit dari asteroid itu berukuran 5 – 10 meter dengan kecepatan jatuh
sekitar  20.3 km/detik (73.080 km/jam).
Berdasarkan perkiraan sebaran meteoroid-asteroid di antariksa dekat bumi objek
seperti itu punya kemungkinan jatuh di bumi setiap  2 – 12 tahun.

Laporan hasil analisis sistem pemantau internasional
itu bisa dibaca di

http://neo.jpl.nasa.gov/news/news165.html

Asteroid
Impactor Reported over Indonesia

Don
Yeomans, Paul Chodas, Steve Chesley
NASA/JPL Near-Earth Object Program Office
October 23, 2009

On October 8, 2009 about 03:00
Greenwich time, an atmospheric fireball blast was observed and recorded over an
island region of Indonesia. The blast is thought to be due to the atmospheric
entry of a small asteroid about 10 meters in diameter that, due to atmospheric
pressure, detonated in the atmosphere with an energy of about 50 kilotons (the
equivalent of 100,000 pounds of TNT explosives).

The blast was recorded visually and
reported upon by local media representatives. See the YouTube video at:

http://www.youtube.com/watch?v=yeQBzTkJNhs&videos=jkRJgbXY-90

A report from Elizabeth Silber and
Peter Brown at the University of Western Ontario indicates that several
international very-long wavelength infrasound detectors recorded the blast and
fixed the position near the coastal city of Bone in South Sulawesi, island of
Sulewesi. They note that the blast was in the 10 to 50 kT range with the higher
end of this range being more likely.

Assuming an estimated size of about
5-10 meters in diameter, we would expect a fireball event of this magnitude
about once every 2 to 12 years on average. As a rule, the most common types of
stony asteroids would not be expected to cause ground damage unless their
diameters were about 25 meters in diameter or larger.

A more extensive report by Elizabeth
Silber and Peter Brown of the University of Western Ontario is here.


Summary of Preliminary Infrasonic Analysis of the Oct 8,
2009 Indonesian Superbolide

Elizabeth
Silber and Peter Brown
Meteor Infrasound group
Dept. of Physics and Astronomy,
Univ. of Western Ontario
London, ON
N6A 3K7
CANADA

Released: October 19, 2009

On Oct 8, 2009, media reports
appeared in the local press in Indonesia concerning a loud air blast occurring
near 11am local time (0300 UT). Subsequent to these first media reports,
additional English language reports appeared suggesting the event was
meteoritic.

http://thejakartaglobe.com/home/mysterious-explosion-panics-locals-in-south-sulawesi-police-still-investigating/334246

http://www.thejakartapost.com/news/2009/10/08/blast-may-be-result-falling-space-waste-or-meteorite-lapan.html

Indonesian language reports more
clearly identify a bright fireball, accompanied by an explosion and lingering
dust cloud as the origin of the air blast. Finally, a YouTube video posted on
the same day appears to show a large dust cloud consistent with a bright,
daylight fireball.

http://www.surya.co.id/2009/10/09/ledakan-misterius-guncang-sulsel.html

http://www.youtube.com/watch?v=yeQBzTkJNhs&videos=jkRJgbXY-90

Based on these initial reports, a
detailed examination was made of all International Monitoring System (IMS)
infrasound stations of the Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization
(CTBTO). From this initial examination, a total of 11 stations showed probable
signals from a large explosion centered near 4.5S, 120E, with an origin time
near 0300 UT on Oct 8, 2009, consistent with the media reports. This signal was
notable for having been (a) detected at many IMS stations, including five at
ranges over 10,000 km (and one at a nearly 18,000 km range) and (b) being
confined to very low frequencies. Both of these observations suggest the
explosion source was of very high total energy. All signal motions were between
0.27 - 0.32 km/s, consistent with stratospheric signal returns.

We have used the Air Force Technical
Application Centre (AFTAC) period-yield relation as described by ReVelle (1997)
as the most robust basic indicator of source energy. To generate measured
periods, the average periods of all phase-aligned stacked waveforms at each
station were measured, according to the technique described in Edwards et al
(2006). These periods were then averaged to produce a single, global average
period of 13.4 sec and the AFTAC yield relation applied; this produced an
average source yield of 31 kT of TNT. Averaging the individual yields from all
stations produces a mean source energy near 50 kT of TNT while using only the
eight stations having the highest signal-to-noise-ratio (SNR) and using the
local observed periods of the waveform at maximum amplitude produces a yield
estimate of 40 kT of TNT, all of which are basically consistent. It is important
to note, however, that the standard deviation of this measurement is nearly 30
kT. That is, the best source energy estimate would be 40 +/- 30 kT TNT. Note
that much of this variation may be due to the signal emanating from different
portions of the fireball trail as observed at different stations; each period
measurement is a “sample” of the size of the cylindrical blast cavity
at that particular segment of the trail detected by any one station. As such,
the out of atmosphere yield for this event is likely higher than these
measurements suggest - very probably in the ~50 kT range.

The yield estimates based on
infrasonic amplitude are very uncertain in this instance as the propagation
distances are much larger than is typical and outside the range limits where
such relations have been developed (e.g. Edwards et al, 2006) and hence the
period relationship (which was generated using a dataset of nuclear explosions
having yields in this range) is more applicable.

Some examples of the detected and
processed waveforms are shown in the appendix.

Based on these infrasound records,
it appears that a large (40-50 kT TNT) bolide detonation occurred near 0300 UT
on Oct 8, 2009 near the coastal city of Bone in South Sulawesi, Indonesia. The
infrasonic geolocation is not precise enough to determine if the bolide was
over water or land, but it was relatively near the coast.

Follow-on observations from other
instruments or ground recovery efforts would be very valuable in further
refining this unique event.

Using an average impact velocity for
NEAs of 20.3 km/s, the energy limits (10 - 70 kT) suggested by this analysis
correspond to an object 5-10 m in diameter. Based on the flux rate from Brown
et al (2002), such objects are expected to impact the Earth on average every 2
- 12 years

References

Brown P., Spalding R.E., ReVelle
D.O., Tagliaferri E. and Worden S.P. 2002. The flux of small near-Earth objects
colliding with the Earth, Nature, 420, 314-316.

Edwards W.N., Brown P.G., ReVelle
D.O., 2006. Estimates of Meteoroid Kinetic Energies from Observations of
Infrasonic Airwaves, Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics, 68:
1136-1160.

ReVelle D.O. 1997. Historical
Detection of Atmospheric Impacts by Large Bolides using Acoustic-Gravity Waves,
Annals of the New York Academy of Sciences, Near-Earth Objects - The United
Nations International Conference, editor J.L. Remo, New York Academy of
Sciences, 822, 284-302.

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin

Fireball Meteorit Besar Jatuh

October 14th, 2009 by t_djamal

Meteorit Menimbulkan Ledakan di Bone

 

Kamis siang, 8 Oktober 2009 saya
mendapat berita adanya ledakan di perairan Bone, Sulawesi Selatan. Informasi
yang saya terima ledakan itu disertai dengan pijaran cahaya dari langit, ada jejak asap,
ada getaran, dan tidak ada informasi kecelakaan pesawat terbang atau
penerbangan pesawat Sukhoi dengan kecepatan supersonik yang menimbulkan sonic
boom (gelombang kejut akabat objek bergerak melebihi kecepatan suara).

Atas dasar itu
saya simpulkan itu benda jatuh antariksa. Mungkin alami (meteorit besar),
mungkin pula buatan (sampah antariksa). Tetapi dari analisis sampah antariksa
tidak ada objek yang berpotensi jatuh yang melintas Sulawesi pada hari itu
sekitar pk 10.00 – 11.30 WITa (rentang waktu laporan warga). Jadi saya simpulkan
dugaan kuat itu adalah meteorit cukup besar. Kalau terjadi pada malam hari
masyarakat akan melihat bola api (fireball) yang sangat terang sejak posisi yang cukup tinggi. Karena kejadiannya siang pijaran api hanya manarik perhatian
menjelang mencapai permukaan bumi.

Perkiraan kasar
saya, berdasarkan kejadian sebelumnya di Pontianak (2003, meteorit berukuran
kecil, sekitar 15 cm) dan sampah antriksa di Bengkulu (2003, lempengan roket,
sekitar 60 x 60 cm) yang juga menunjukkan adanya pijaran dan suara ledakan
tidak terlalu kuat,  meteorit itu cukup
besar minimal sekitar 30 – 50 cm. Karena jatuh di laut, tidak mungkin kita
menemukan bendanya.

Ada nara sumber
lain di LAPAN yang sempat menyebutkan (menurut berita) tidak mungkin itu
meteorit, karena itu terjadi pada siang hari. Mungkin ada salah persepsi.
Sebenarnya meteorit bisa jatuh setiap saat dari segala penjuru, walau dari segi
kecepatan dan frekuensi kejadian akan lebih banyak terjadi pada sisi bumi yang
mengalami waktu dini hari (sekitar pukul 00 – 06) karena adanya efek gabungan
rotasi bumi dan gerak bumi mengitari matahari. Data dari Radar Meteor di
Stasiun LAPAN Kototabang (Sumatera Utara) menunjukkan meteor jatuh setiap saat
dari segala penjuru. Radar Meteor tersebut teralu jauh untuk mendeteksi meteorit di Bone.

Pada 6 Juli
2009 lalu di Pennsylvania, Amerika Serikat sekitar
pukul 01.00 dini hari juga ada kejadian meteorit besar yang jatuh dan
menimbulkan fenomena bola api (fireball), ledakan, dan getaran.

http://meteoriteblog.com/large-meteor-fireball-over-pa-explosions-sonic-booms-heard/

Ini kutipan
berita media massa tentang ledakan di Bone:

http://www.detiknews.com/read/2009/10/08/145729/1217958/10/lapan-ledakan-di-bone-kemungkinan-meteor-tapi-tak-bahaya

Kamis, 08/10/2009 14:57 WIB
Lapan: Ledakan di Bone Kemungkinan Meteor, Tapi Tak Bahaya
Ken Yunita - detikNews

Ledakan keras yang terdengar di langit Bone, Sulawesi
Selatan, diduga terjadi akibat gesekan meteorit dengan lapisan atmosfir. Namun
peristiwa itu tidak akan membahayakan Bumi.

“Kan ada ledakan dan cahaya membara, analisis sementara itu meteorit yang
jatuh dan bergesekan dengan lapisan atmosfir,” kata peneliti utama
astronomi-astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr
Thomas Jamaluddin kepada detikcom, Kamis (8/10/2009).

Thomas menduga, benda tersebut boleh jadi juga sampah antariksa seperti pecahan
satelit atau bekas roket peluncur. Namun kemungkinan itu sangat kecil karena
hari ini tidak ada sampah antariksa yang jatuh ke bumi.

“Lagi pula, kecepatan sampah antariksa itu tidak setinggi meteorit jadi
kemungkinan terjadi ledakan sangat kecil,” kata Thomas.

Thomas mengatakan, warga tidak perlu khawatir dengan peristiwa tersebut.
Menurutnya, meteorit memang biasa jatuh ke bumi.

Dari data yang dimikili Lapan, 25 ribu ton meteorit jatuh ke Bumi setiap
tahunnya. “Ada yang bentuknya sangat halus seperti debu sampai kita tidak
tahu kalau kita kejatuhan meteorit,” kata Thomas.

Apakah ada meteorit yang mengancam bumi? “Sejauh ini belum ada. Beberapa
negara kan telah melakukan patroli antariksa dan hingga kini tidak ada laporan
meteorit yang membahayakan Bumi,” ujar Thomas. (ken/nrl)

 

Ini video berita Metro TV

http://www.youtube.com/watch?v=t4c3xeup9lA&feature=related

Original post by Dokumentasi T.Djamaluddin